Emosi, Persepsi, Emosi dan Motivasi apa ya hubungannya??

  Nama    : Syekar Ayu Ghalbiyah

NIM       : 2110323027

Dosen Pengampu Psikologi Umum :

1. Diny Amenike, M.Psi., Psikolog

2. Amatul Firdausa Nasa, M.Psi., Psikolog

3. Mafaza, S.Psi., M.Sc


 Haii balik lagi nih sama aku, Syekar Ayu Ghalbiyah

Kali ini aku bakal share materi hasil pertemuan minggu ketiga psikologi umum tepatnya tanggal 13 September 2021. Oh yaa sedikit kesan aku ketika pertemuan ketiga ini adalah aku melihat bahwa sosok ibu Keke ini benar-benar sosok wanita yang aku impikan di masa depan xixixixii. 

Yuk lanjut…

Materi pada pertemuan ketiga dengan bu Keke ini adalah sensasi, persepsi, motivasi, serta emosi. Menurut kalian apasih maksud dari kata-kata diatas? Mungkin yang hanya kalian pikirkan saat terdengar kata emosi adalah “marah”. Namun, hal itu satu diantara jenis emosi.

Berbicara mengenai emosi nih tentu kaitan nya dengan “berdamai dengan diri sendiri”, apakah teman-teman sudah mulai bisa melakukan hal tersebut? Yaudah…jawabnya dalam hati aja ya heheheh

Berdamai dengan diri sendiri tentunya tidak mudah, apalagi bila individu tersebut termasuk tipe orang yang mempunyai mood swing. Namun, jangan khawatir karena mood sebenarnya bisa kita control loh..

Darimana si mood itu timbul? Nah, mood itu merupakan bagian dari emosi kita. Terus,…darimana emosi muncul? Mau tau lebih lanjut, yuk simak pembahasan pada materi kali ini.

SENSASI, PERSEPSI, EMOSI DAN MOTIVASI

Semua yang kita lakukan, pada awalnya muncul dari adanya sensasi. Sensasi adalah rangsangan yang dapat kita terima dari panca indra, yaitu berupa pendengaran, sentuhan, pengecapan, pembauan, dan penglihatan. Nah, dari persepsi inilah yang nantinya akan diterjemahkan oleh system syaraf kita untuk menjadi sebuah persepsi. Coba deh kalian lihat gambar berikut



Dari kedua gambar diatas, tentunya hal yang pertama kali teman-teman lihat tidaklah sama. Mungkin pada gambar 1, yang pertama kali dilihat kupu-kupu atau ada juga yang melihat dua orang saling bertatapan begitupun gambar 2. Itulah yang dinamakan persepsi.

Ada satu contoh real, seperti yang kita ketahui bahwa dalam menjalani perkuliahan terutama pada masa menjadi maba ini, kita banyak mengenal teman dari berbagai daerah yang tentunya dalam berbagai persepsi kita terhadap orang tersebut berbeda. Mungkin first impression kita terhadap si A memilki sifat yang sombong. Namun, pada kenyataannya dia memilki sifat yang humble, karena saat itu kita belum berkenalan dan hanya judging by it’s cover.

Selanjutnya ada yang namanya habituasi dan sensori adaptasi. Habituasi ini adalah tingkat lanjutan dari sensori adaptasi. Kita ambil contoh apabila kita merupakan mahasiwa baru yang dimana kampus berada di kota lain. Tentunya kita harus mempunyai tempat tinggal, biasanya kita menyebutnya dengan kostan. Pada awal tinggal di kost tersbut, kita membutuhkan adaptasi terhadap lingkungan yang jauh dari keluarga ataupun bentuk sosial lingkungan tersebut. Selanjutnya kita bisa melakukan habituasi yang lama-kelamaan kita sudah terbiasa dengan lingkungan kost tersebut, misalnya saat malam hari di sekitaran kost banyak anak tongkrongan yang menimbulkan suara yang cukup riweh. Awalnya mungkin kita tidak bisa tidur, namun setelah seminggu atau seterusnya waktu berjalan kita sudah biasanya mendengar suara seperti itu.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sensori adaptasi adalah kecenderungan sensori reseptor ketika menerima informasi yang tidak berubah menjadi kurang responsive dan habituasi adalah pembiasaan dimana otak tersebut stop memberikan perhatian terhadap sesuatu yang statis. Setelah itu ada istilah yang namnay sensori thresholds dimana sensori ini adalah ambang  batas manusia secara sadar mendeteksi informasi. Manusia tidak bisa menangkap suara yang terlaku kecil (infrasonic / <20 Hz) ataupun terlalu besar ( ultrasonic >20.000 Hz / 20KHz). Dalam kasus pendengaran, manusia hanya bisa menangkap gelombang bunyi  audiosonik ( 20 Hz-20.000 Hz).  



 

Berikutnya adalah hubungan emosi dan motivasi.  Menurut Leeper (1970) mengemukakan bahwa hamper semua tingkah laku yang berkesinambungan dan diarahkan pada tujuan diwarnai oleh emosional dan emosional lah yang memberikan arah bagi tingkah laku tersebut. Menurut Tomkins (1970) bahwa emosi memberikan energi positif pada motif sehingga yang ditimbulkan adalah emosi memperkuat motif untuk memberikan kekuatan motivasinya.

Contoh hubungan motivasi dan emosi dalam kehidupan :


Saat saya sedang berjalan di mall, kebetulan saya suka minuman sejenis coffe, terlihat coffee shop dan dari coffee shop tersebut menimbulkan aroma yang membuat saya ingin membelinya. Sehingga dengan keinginan tersebut saya segera membeli coffee tersebut.

Sekian reflective journal saya kali ini,  terima kasih..

Don’t forget to leave your comment 🧕🏻 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSIUM II : EMOSI DAN MOTIVASI

History of Psychology

PSIUM II : PERSPEKTIF BIOLOGIS DALAM PSIKOLOGI