Pengaruh Darwin dan Tumbuhnya Tes Mental

 GulirTinta'S7

Halo readers.. balik lagi ni ke blog mingguan ini, wah udah episode 7 aja nih blog nya hehehe

Seperti biasa, sebelum lanjut baca materi biar makin relax dengarin dulu ni kumpulan lagu berikut wkwkwk bisa bikin semangat lohh..

https://youtu.be/_fhg4cH1hKU

Siapa si yang ga kenal DARWIN? Nama itu udah kita temui sejak SMP bahkan ada yang SD ya hehehe..yak bener beliau adalah bapak evolusi.

Nah, berbicara soal Darwin ni, nanti ita akan bahas apa aja si pengaruh yang dibawa Darwin dan hubungannya dengan psikologi terutama tes mental. Hmm..apa ya alat ukur tes mental??


 

Yuk kita bahas!

Berawal dari psikologi eksperimental kesadaran yang berkembang di Jerman, Titchener berusaha untuk mentransplantasikan versinya ke AS, namun gagal. Selanjutnya, tahun 1892 ketika Titchener tiba di Cornell, saat itu penduduk AS sedang berada dalam fase semangat perintis yang baru, praktis, serta tidak peduli pikiran abstrak. Teori evoluasi ini memberikan pandangan yang sesuai sehingga saat itu AS menganut teori evolusi. Di Amerika Serikat, teori ini menjadi tema dominan dan penerjemahan teori evolusi ke dalam psikologi menciptakan psikologi khas AS. Nah, sejak saat itu lah terjadi pergeseran pusat penelitian psikologi dari Eropa ke Amerika.

1. Teori Evolusi Sebelum Darwin

Seperti yang kita ketahui bahwasanya Yunani merupakan negara maritim sehingga pada zaman itu di Yunani sudah bisa diamati berbagai bentuk kehidupan. Namun, saat itu Yunani belum bisa mengembangkan teori evolusi yang sempurna. Ilmuan seperti Plato dan Aristoteles tidak mempercayai adanya perubahan dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Mereka beranggapan bahwa sesuatu itu murni dan tidak akan mengalami perubahan. Pada abad ke-18, beberapa ilmuan terkemuka mulai mendalilkan teori evolusi salah satunya kakenya Charles Darwin, yaitu Erasmus Darwin (percaya satu spesies dapat berubah menjadi spesies lain). Berikut ilmuan lainnya:

A. Jean Lamarck (1744-1829)

Lamarck merupakan seorang naturalis perancis yang mencatat bahwa fosil hasil temuannya dari berbagai zaman memiliki perbedaan bentuk fosil. Menurutnya, spesies berubah dari satu waktu ke waktu berikutnya  sehingga Lamarck menyimpulkan bahwa perubahan lingkungan lah yang mempengaruhi perubahan pada struktural pada hewan dan tumbuhan ini. Menurut Lamarck, semakin sering bagian organ digunakan maka semakin berkembang pula organ tersebut. Contohnya seekor singa yang berlari kencang untuk menangkap mangsanya sehingga otot-otot pada kaki singa tersebut menjadi berkembang yang kemudian perkembangan otot ini akan diturunkan pada generasi berikutnya yang disebut dengan teori  pewarisan sifat.  Dapat disimpulkan bahwa menurut Lamarck karakteristik suatu spesies akan berubah ketika sifat tersebut diperlukan untuk bertahan hidup. 

B. Herbert Spencer (1820-1903)

    Spencer bukan merupakan seorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Spencer pernah bekerja sebagai pegawai kereta api, surveyor, insinyur bahkan jurnalis. Ketertarikan Spencer dalam dunia psikologi dan teori evolusi berasal dari hasil bacaannya terhadap buku John Stuart Mill yang berjudul "System of Logic" dan juga dalam circle pertemanannya bersama para intelektual. Spencer mengambil gagasan evolusi dan menerapkannya tidak hanya pada manusia tetapi juga pada hewan dan tumbuhan. Menurut Spencer, semuanya dimulai dengan tidak terdiferensiasi. Melalui evolusi inilah terjadi diferensisasi sehingga menjadi lebih kompleks. Contohnya sistem saraf ketika sering digunakan korelasi untuk melakukan suatu aktivivtas, maka saraf tersebut akan semakin kompleks pula fungsinya. Selanjutnya ada prinsip sintesis Spencer tentang contiguity and evolutionary. Menurutnya, semakin menyenangkan sesuatu itu, frekuensi perilaku untuk melakukannya semakin meningkat begitupun sebaliknya. Semakin menyakitkan sesuatu, frekuensi perilaku untuk melakukannya pun semakin kecil. 

    Teori Spencer ini merupakan perpaduan antara empirisme, asosiasionisme serta nativisme karena beliau percaya bahwa asosiasi yang dipeoleh dari pengalaman akan diturunkan kepada generasi berikutnya. Menurutnya asosiasi yang digunakan keturunan bersifat refleks. Baginya naluri atau refleks ini telah terbentuk sejak generasi sebelumnya yang menjadi kebiasaan. 

    Ketika munculnya karya Darwin, Spencer mengalihkan penekanannya pada karakteristik seleksi alam. Konsep survival of the fittest (karya Spencer diadopsi oleh Darwin). Pandangan evolusi bagi Spencer dan Darwin tentunya berbeda.

      • Spencer: Evolusi selalu memberikan pada tujuan terbaik untuk mendekati kesempurnaan
      • Darwin: Evolusi tidak memiliki tujuan yang akhir

    Bagi Spencer, pencapaian kesempurnaan hanyalah masalah waktu. Prinsip evolusioner juga berlaku pada masyarakat dan individu dimana gagasan Spencer tersebut penerapannya cocok bagi masyarakat yang kemudian disebut dengan darwinisme sosial.  Berikut ada salah satu pendapat Spencer mengenai evolusi:

  • Jika evolusi dibiarkan bebas, semua organisme hidup mendekati kesempurnaan termasuk manusia (Kebijakan pemerintah yang terbaik diterapkan untuk masyarakat adalah laissez-faire).

 

C. Charles Darwin (1809-1882)

    Darwin merupakan anak kelima dari Robert dan Susannah Wedgwood. Ketika memasuki dunia sekolah, Darwin tidak menunjukkan good attitude, malah sebaliknya dia menujukkan bad attitude sehingga ayah nya pun  meramal bahwa Darwin akan menjadi orang yang mempermalukan diri sendiri maupun keluarga. Darwin beberapa kali melakukan pindah tempat pendidikan dari sebelumnya kedokteran di Edinburgh University kemudian ke Cambridge University. Karena kecintaannya tehadap entomologi (ilmu tentang serangga) setelah lulus dari Cambridge University, Darwin melakukan ekpedisi ke ke Wales yang dipimpin oleh Ada, Sedgwick (profesor geologi cambridge). 

Perjalanan Beagle

Musim gugur 1835, Beagle berhenti di kepulauan Galapagos, tempat Darwin mempelajari berbagai jenis spesies hewan sepereti kura-kura besar, kadal, singa laut, dan 13 spesies burung kutilang. Selanjutnya 1836, Darwin kembali ke Inggris dan mulai bekerja mengklasifikasikan spesies temuannya. 

Teori Evolusi Darwin

Kapasitas reproduksi dan kemampuan dalam menjangkau makanan adalah salah satu indikator yang mempengaruhi apakah suatu organisme bisa bertahan atau tidak. Dalam hal ini, Darwin memakai istilah "Survival of fittest" atau seleksi alam. Dapat diambil contoh apabila jerapah berada dalam lingkungan yang memiliki sumber makanan dari pohon yang tinggi, maka jerapah yang memiliki fisik leher panjang, lebih bertahan hidup dalam lingkungan tersebut karena bisa mencapai makanan tersebut.  Selanjutnya Darwin mendefiniskan kebugaran sebagai kemampuan organisme berkembang biak dan bertahan hidup. Adapun fitur adaptif menurut Darwin yaitu organisme mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Saat lingkungan berubah, fitur adaptif pun ikut berubah dan bertahan selamanya.

Teori Evolusi Manusia

Dalam bukunya "The Origin of Species" beliau membahas sedikit mengenai manusia dan dalam bukunya "The Descent of Man" beliau menyatakan bahwa manusia merupakan produk dari evolusi. Dari semua buku karangannya, buku "The Expression of the Emotions in Man and Animals" merupakan buku yang memiliki hubungan dekat dengan psikologi karena ia berpendapat bahwa emosi manusia adalah sisa-sisa dari emosi hewan yang digunakan untuk bertahan hidup dahulu. Darwin juga mempengaruhi dunia psikologi selanjutnya, yaitu beliau meneliti kemampuan motorik serta kemampuan belajar putra pertama nya yang dipublikasikan saat putranya berusia 37 tahun yaitu tahun 1877. Laporan Darwin inilah pertama yang disebut psikologi anak. 

Pengaruh Darwin

Gagasan Darwin akhirnya menciptakan jenis psikologi AS yang menekankan perbedaan individu, fitur adaptif dari pikiran dan perilaku serta studi tentang perilaku hewan. Ada beberapa teori Darwin yang masih dipertanyakan :

  • Orang primitif kontemporer merupakan penghubung antara manusia modern dan primata
  • Intelektual perempuan lebih rendah dibandingkan dengan intelektual laki-laki
  • Kebiasaan lama yang menjadi naluri/refleks akan diwariskan (mendukung teori Lamarck)


D. Francis Galton (1822-1911)

     Galton merupakan sepupu tiri dari Charles Darwin. Ibunya merupakan adik tiri dari ayah Darwin. Awalnya Galton merupakan orang yang kurang memikirkan pendidikan karena pengalaman buruk yang ia dapatkan ketika bersekolah asrama. Namun, setelah ia puas beerfoya-foya dengan kekayaannya, Galton melakukan konsultasi dengan seorang ahli frenologi yang merekomendasikan kehidupan yang aktif. Dari sinilah Galton memutuskan untuk bergabung dalam Royal Geographical Society. Saat itu Galton melakukan perjalanan bersama Royal Geographical Society tersebut selama 2 tahun dan terbukti bahwa Galton mampu membuat peta. Dari berbagai penemuannya itu, akhirnya 1856 Galton diangkat menjadi presiden Royal Geographical Society. Galton percaya bahwa setiap individu memiliki perbedaan dan jenis perbedaan itu harus diukur dan dikategorikan.

Pengukuran Kecerdasan

Galton beranggapan bahwa kecerdasan itu berkaitan dendgan ketajaman indra karena manuisa mengetahui dunia dari panca indra nya. Menurutnya, kecerdasan juga merupakan hasil turunan dari generasi sebelumnya. Galton melakukan penelitian terhadap keluarga termashur dan orang umum dan jelas hasilnya bahwa keluarga orang termashur memiliki frekuensi keunggulan dibandingkan orang umum. Lalu, timbul pertanyaan "Bila kecerdasan diwariskan, apakah hal tersebut bisa dilakukan melalui perkawinan?" dan jawaban Galton adalah bisa. Kesimpulan ini disebut sebagau "Pembiakan Selektif". 

The Nature-Nurture Controvercy

Konsep Nature dan Nurture adalah sebagai berikut:

Nature    : semua hal yang dibawa manusia saat lahir ke dunia

Nurture    : setiap pengaruh yang memepengaruhinya setelah kelahiran

Penggunaan kuesioner pertama kali adalah psikologi adalah ketika Galton menerima kritik terhadap bukunya sehingga untuk karya berikutnya Galton mengirimkan 200 kuesioner kepada rekannya di Royal Society. Para peserta banyak ditanyai mengenai pertanyaan fakatual. Ada salah satu pertanyaan "apakah minat para ilmuan tersebut adalah bawaan?" dan mereka sebagian besar menjawab bahwa minat tersebut ya benar bawaan. Selanjutnya, Galton melihat perbandingan anatara pendidikan di Inggris dan Skotlandia, sehingga Galton menyimpulkan bahwa kecerdasan itu selain datang dari bawaan, juga dipengaruhi oleh lingkungan. 

 

Tes Asosiasi Kata 

Galton juga merupakan orang pertama yang merancang tes asosiasi kata. Penelitian ini dengan menggunakan 75 kata kemudian Galton melirik dan menghapal kata tersebut. Ada 3 hal yang didapat Galton dari peneltiannya:

  1. Respon terhadap kata-kata stimulus cenderung kosntan
  2. Tanggapannya tentang kata itu sering diambil dari pengalaman masa kecil
  3. Menurutnya, prosedur seperti itu mengungkapkan aspek baru yang belum ada sebelumnya

 Citra Mental

Menurutnya, kemampuan dalam membayangkan kejadian sebelumnya terdistribusi secara normal. Ada sebagian orang yang bisa membayangkan kejadian yang sudah dilalui kemudian menggambarkan secara rinci adapun yang tidak.

Antropometri

Galton mendirikan laboratorium antropometrik tahun 1884 yang tujuannya untuk mengukur kecerdasan, karena beliau percaya bahwa kecerdasan berkaitan dengan ketajaman indra seseorang. Misalnya ia mengukur rentang kepala, ketajaman pendengaran, tinggi berdiri,dll. Kebetulan seorang Gall mengukur ukuran lingkar kepala karena dia percaya bahwa semakin besar lingkar kepala otak nya pun semakin besar dan mempengaruhi kecerdasan. Meskipun kecerdasan tidak lagi diukur dengan ketajaman indara, setidaknya Galton menjadi awal dari pergerakan pengujian mental dalam psikologi. 

Konsep Korelasi

Konsep ini menurut Galton memiliki hubungan yaitu contohnya bila seseorang memiliki lengan yang panjang, maka akan memiliki kaki yang panjang pula. Untuk konsep regresi adalah menurut Galton adanya kecenderungan bagi rata-rata tinggi aak dengan tinggi orang tua untuk mengalami kenaikan ataupun penurunan dari tinggi asal orang tua mereka. 


PENGUJIAN INTELIJENSI SETELAH GALTON

James McKeen Cattel (1860-1944)

Merupakan salah satu murid Wundt dan Galton, namun Cattel lebih berpengaruh pada ajaran Galton. Beliau mendukung pendapat Galton yaitu kecerdasan seseorang berkaitan dengan ketajaman sensori. Beliau juga menerapkan pengukuran Galton dalam perkuliahannya dan mempublikasikan "Mental Test" untuk pertama kali. Menurutnya percobaan psikologi bisa menjadi ilmiah seperti ilmu lainnya dengan melalui proses pengukuran mental dengan jumlah orang banyak. Ia pun juga berasumsi bahwa kecerdasan juga berpengaruh pada kesuksesan akademik dimana tes kecerdasan ini setiap orang memiliki hasil tes yang berbeda. 

 Alfred Binet (1857-1911)

Binet berpendapat bahwa penyakit dan sensasi dapat dimanipulasi dengan sensasi. Ia juga terlibat dalam penemuan terkait hypnotism. Ia juga menemukan test untuk mengetahui mental anak. Pada awalnya, beliau mencoba pada putrinya dalam mengingat sesuatu. Dalam hal ini, ia mengukur ketajaman penglihatan, Binet menerapkan konsep perhitungan Galton dan Cattel.

Psikologi Individu

Dalam hal pengukuran kemampuan kognitif Binet menngukur memory, imagination, imaginery, dll. Namun sayangnya penelitian tersebut gagal.

Menilai Kekurangan Intelektual

Binet memneliti mengenai psikologi pendidikan anak. Menurutnya, anak yang memiliki keterbelakanagan mental seperti buta dan tuli dalam proses pemebalajaran memerlukan perlakuan khusus dalam pendidikan.

Skala Kecerdasan Binet-Simon

Binet percaya bahwa sifat warisan dapat menumbuhkan kecerdasan dan kecerdasan pun dapat tumbuh dari semua orang. Binet mencetuskan 30 skala pengukuran kecerdasan yaitu 27 skala mengukur perkembangan kognitif dan 3 skala kecerdasan perkembangan motorik.

 Intelligence Quotient

Binet menentang pendapat teori Stern dan Terman mengenai IQ. Menurutnya kecerdasan terallau kompleks bila hanya dijelaskan dengan angka. Binet dan Simon telah mengembangakan ukuran kecerdasan singkat dan mudah dikelola.

IQ= Mental Age (MA)/Chronological Age (CA) X 10

Ortopedi Mental

Binet percaya bahwa ortopedi mental yaitu latihan yang meningkatkan kemauan, perhatian, dan disiplin ataupun semua yang diperlukan dalam pembelajaran efektif dapat memepersiapkan anak-anak yang kurang beruntung untuk sekolah. 

Charles Spearmen (1863-1945)

Kecerdasan bisa dijelaskan dengan 2 faktor yaitu kemampuan yang disebut specifik factors (s) dan kecerdasan bawaan yang disebut general intelligence (g). Ia menemukan bahwa tingkat ketajaman sensori hampir tidak ada hubungannya dengan kecerdasan.  Spearmen menyimpulkan bahwa:

  1. Spearmen menekankan sifat kesatuan kecerdasan sedangkan Binet menekankan keragamannya
  2. Memandang kecerdasan sebagian besar diwariskan sedangkan Binet melihat kecerdasan bisa dimodifikasi dengan pengalaman
  3. Konsep kecerdasan Spermen lebih diterapka di US, bukan konsep dari Binet. IQ dipandang dapat mengukur kecerdasan dibanding level intelektual yanag ditemukan di Barat 

Cyrill Burt (1883-1971) 

Burt percaya bahwa kecerdasan bukan hanya seputar mental, tetapi juga didasarkan pada pendidikan moral. Burt lebih banyak mempelajari tentang politik sains daripada sifat kecerdasan. 


Skala Binet-Simon di US

Henry Herbert Goddard (1866-1957)

Goddard mendukung pendapat Galton dan Cattel bahwa kecerdasan sebagian besar adalah sifat bawaan.

Study of the "Kallikak" Family

Pengaruh latar belakang kelurga terhadap kecerdasan. Dalam hal ini, Martin (pria kecerdasan lemah) dan Deborah (wanita cerdas), dimana menghasilkan keturunan dua anak tertua memiliki kecerdasan sedangkan lima anak termuda memiliki kecerdasan lemah. Mereka berpendapat bahwa orang yang memiliki kecerdasan harus mengendalikan orang yang memiliki kecerdasan lemah dalam reproduksi. 

Tes Mental dan Imigrasi

Menurutnya, imigran banyak yang memiliki keterbelakangan mental. Para imigran di tes kecerdasan bawannya dibandingkan pendidikan yang diperoleh sebab hal tersebut bisa memberikan hasil yang berbeda. Goddard setuju bahwa apa yang dikatakan oleh Binet bahwa orang yang memiliki keterbelaknagan kecerdasan harus mendapatkan pendidikan khusus bukan malah dijauhkan dari masyarakat. 

Lewis Madison Terman (1877-1956)

 The Stanford Binet Test

Terman mengadaptasi "Rasio intelektual" oleh Stern dan menatakan bahwa hasil tes rasio dikali dengan seratus supaya menghilangkan angka desimal dan hal tersebut disebut denfan "Rasio IQ"

Warisan Intelijen

Terman percaya bahwa kecerdasan sebagian besar adalah bawaan. Ia juga percaya bahwa lemah mental adalah salah satu penyebab kriminalitas tertinggi yang dibentuk dari orang yang antisosial (Sependapat dengan Goddard). Ia berpendapat bahwa IQ dan moral sangat penting, namun pendapat Terman bahwa IQ adalah ukuran yang valid kecerdasan asli juga tetap mendapat kritik. Terman memvalidasi Stanford–Binet dengan menghubungkan uji kinerja dengan prestasi akademik guru, perkiraan intelegensi guru,dan nilai sekolah.

Studi Terman tentang Jenius

Menurutnya, anak-anak yang cerdas adalah anak yang abnormal dalam arti lebih dari statistik. Terman mendefiniskan kecerdasan adalah mereka yang memiliki kecerdasan skor diatas 135 (berdasarkan terman test). Ia percaya bahawa kecerdasan itu sifatnya genetik dalam artian berkembang dan merupakan sifat bawaan tertentu. Ditemukan oleh sekolompok orang yang mempelajari konsep Terman yaitu variabel psikososial dan perilaku secara signifikan dapat memprediksi kematian dini, seperti perceraian orang tua selama masa kanak-kanak, pernikahan yang tidak stabil, karakter pada masa kanak- kanak tertentu, ketidakstabilan psikis pada masa dewasa, dan kebiasaan yang tidak sehat.

Leta Stetter Hollingworth (1886-1939)

Beliau menentang pendapat bahwa kecerdasan bersifat bawaan dan berpendapat bahwa kecerdasan wanita lebih rendah dari laki-laki karena faktor sosial.  Ia berpendapat bahwa kecerdasan dipengaruhi pendidikan. Hollingworth juga memfokuskan perhatiannya pada pendidikan anak " gifted". 

PENGUKURAN KECERDASAN TENTARA DI MILITER

Robert M. Yerkes (1876-1956)

Ketika US memasuki perang dunia I, ia diminta untuk menentukan bagaimana psikologis para tentara yang apakah dampak mentalnya akan berpengaruh dalam hal peperanagan.  

KEMEROSOTAN KECERDASAN NASIONAL

  1. Faktor umum dari kemmapuan kognitif yang membedakan manusia
  2. Semua tes standar bakat akadaemik atau prestasi umum ini untuk mengukur faktor umum ini untuk beberapa derajat, namun tes IQ dirancang paling akurat
  3. Skor IQ cocok untuk indikator kecerdasan
  4. Skor IQ stabil, meski tidak begitu sempurna di sebagian besar kehidupan seseorang
  5. Tes IQ yabg diberikan tidak terbukti bias terhadap sosial, ekonomi, etnis, ataupun ras
  6. Kemampuan kogitif diwariskan tidak kurang dari 40% dan tidak lebih dari 60%

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSIUM II : EMOSI DAN MOTIVASI

History of Psychology

PSIUM II : PERSPEKTIF BIOLOGIS DALAM PSIKOLOGI