Heloo readers balik lagi nih di GulirTinta'S11. Kali ini, kita akan membahas psikologi gestalt dan kognitif dimana itu adalah materi pertemuan akhir semester 1 di kampusku yeayy..
Untuk mengetahui apa aja materi nya, yuks cek bacaan berikut:
PSIKOLOGI GESTALT
Psikologi gestalt ini awalnya muncul sebagai bentuk menentang elementalisme Wundt dan saat gestalt ini muncul juga berbarengan dengan aliran behaviourisme yang saat itu sedang berkembang banget lho... Menurut para psikolog muda ini pengalaman sadar yagn dibuat Wundt dan para strukturalis adalah buatan. Menurut mereka kita tidak mengalami halyang terpotong-potong tetapi utuh sebagai sebuah konfigurasi yang bermakna. Oleh karena itu, mereka membuat upaya untuk mereduksi pengalaman menjadi elemen-elemen dasar dengan menggunakan pendekatan molar (molar approach). Mereka yang mengambil pendekatan molar untuk mempelajari fenomena psikologi disebut holistik, sehingga gestalist adalah holistik.
ANTECENDENTS OF GESTALTS
1. Immanuel Kant
Immanuel Kant merupakan, rasionalis
prototipikal, percaya bahwa pengalaman sadar
adalah hasil interaksi antara stimulasi sensorik dan
tindakan faculty of mind. Menurut Kant dan para gestalist ada perbedaan penting antara sensasi dan persepsi. Menurut Kant perbedaan ini muncul karena pikiran kita sedangkan menurut kaum gestalist perbedaan ini karena otak kita menyaring pengalaman indrawi. Namun, antara Kant dan kaum gestalit percaya bahwa pengalaman sadar tidak dapat direduksi menjadi rangsangan sensori tetapi berdasarkan elemen yang menyusunnya.
2. Ernest Mach
Menurut Mach dua persepsi yang muncul terlepas dari unsur yang menyusunnya yaitu bentuk ruang dan bentuk waktu. Misalnya terdapat segititga berwarna hitam, merah, besar, atau kecil tetapi bentuk "segitiga" itulah bentuk ruangnnya bukan dilihat dari besar kecil atau warnanya. Selanjutnya melodi merupakan gabungan dari beberapa nada sehingga udah dikenali. Melodi tersebut adalah bentuk waktu. Ada poin penting dari Mach yaitu berbagai macam elemen sensorik dapat menghasilkan persepsi yang sama tetapi persepsi tidak bergantung pada elemen sensorik tertentu.
3. Christian von Ehrenfels
Ehrenfels menguraikan gagasan Mach ,Ehrenfels mengatakan bahwa persepsi
kita mengandung Kualitas Gestalt (kualitas bentuk) yang
tidak terkandung dalam sensasi yang terisolasi. Menurut Mach dan Ehrenfels bentuk adalah sesuatu yang muncul dari sensasi. Menurutnya elemen masih diperlukan dalam membentuk keseluruhan persepsi dan para gestalist juga percaya bahwa keseluruhan mendominasi bagian.
PENDIRIAN PSIKOLOGI GESTALT
1. Max Wertheimer
Ketika ia sedang melakukan perjalanan dalam sebuah kereta api, ide nya pun muncul. Ide dari Wertheimer adalah persepsi kita berbeda dari sensori yang menyusunnya. Untuk mengeksplorasi lebih jauh gagasan ini,
Wertheimer turun dari kereta di Frankfurt, membeli
stroboscope mainan (perangkat yang memungkinkan
gambar diam di-flash sedemikian rupa sehingga
membuatnya tampak bergerak), dan mulai bereksperimen
di kamar hotel. Namun, untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih rinci, beliau menuju Universitas Frankfurt dimana disana tersedia tachistoscope yang dapat menyalakan lampu secara terperinci dan terukur. Pada percobaan tersebut, ia mengedipkan dua lampu berturut-turut,
Wertheimer menemukan bahwa jika waktu antara
kilatan itu lama (200 milidetik atau lebih), pengamat
merasakan dua lampu berkedip dan mati secara
berurutan—yang, pada kenyataannya, adalah kasusnya.
Jika interval antara kedipan sangat pendek (30 milidetik
atau kurang), kedua lampu tampak menyala secara
bersamaan. Tetapi jika interval antara kilatan itu sekitar
60 milidetik, tampaknyasatu cahaya sedang berpindah
dari satu posisi ke posisi lainnya. Wertheimer menyebut
gerakan nyata ini sebagai fenomena phi (Phi Phenomenom). Phi Phenomenom ini contohnya gerakan ingkaran memutar warna kuning, padahal aslinya merupakan kejadian menyala dan mati masing-masing lingkaran, tetapi terjadi secara simultan bergantian dan dalam tempo teratur. Fenomena ini merupakan awal dari sekolah psikologi gestalt.
2. Kurt Koffka
Tulisan Koffka ini ditujukan agar gestalt lebih dapat dikenal khalayak luas. Pada tahun 1922 Koffka menulis sebuah artikel, dalam
bahasa Inggris, tentang psikologi Gestalt. Diterbitkan di
Buletin Psikologis, artikel itu berjudul “Perception: An Introduction of Gestalt-Theory.”. Artikel ini diperuntukkan karena sebagian besar psikolog AS berasumsi bahwa gestalist hanya tertarik pada persepsi. Naun, yang benar adalah bahwa selain pada persepsi, para gestalit tertarik pada banyak masalah seperti filosofis, belajar, dan berpikir. Alasan awal
mereka berkonsentrasi pada persepsi adalah karena
Wundt telah berkonsentrasi pada persepsi, dan Wundt adalah fokus utama serangan mereka.
3. Wolfgang Kohler
Saat berada di stasiun antropoid, Kohler
memusatkan studinya pada sifat belajar pada simpanse.
Dia merangkum pengamatannya dalam Mentalitas Simpanse (
1917/1925). Kepulauan
Canary adalah tempat yang tidak mungkin untuk
mendirikan stasiun penelitian antropoid karena
simpanse bukan hewan asli wilayah tersebut.Ley berspekulasi bahwa
alasan Kohler berada di tempat yang begitu
terpencil adalah untuk mengamati aktivitas
pelayaran Inggris untuk militer Jerman dan menjadi mata-mata untuk pemerintahan Jerman. Sekembalinya ke Jerman, Kohler menerima
jabatan guru besar di Universitas Gottingen (1921–
1922, menggantikan GE Muller), dan pada tahun 1922
ia menggantikan Stumpf sebagai direktur Institut
Psikologi di Universitas Berlin. Selanjutnya, Kohler merupakan orang yang sangat kritis terhadap Fechner
dan menawarkan psikofisika sebagai contoh tentang apa
yang bisa terjadi jika pengukuran mendahului
pemahaman tentang apa yang diukur. Kohler percaya bahwa psikolog AS
membuat kesalahan serupa dalam penerimaan
mereka yang luas terhadap operasionalisme. Dia memberi contoh definisi
operasional kecerdasan dalam hal kinerja pada
tes kecerdasan. Di sini, katanya, pengukurannya
tepat (seperti dalam karya Fechner), tetapi tidak
jelas persis apa yang diukur. Meskipun lahir secara harfiah dan filosofis di
Jerman, psikologi Gestalt menjadi sangat
berpengaruh di Amerika Serikat.
ISOMORFISME DAN HUKUM
DARI PRAGNANZ
Sebuah pertanyaan dasar yang harus dijawab oleh
Wertheimer adalah bagaimana hanya dua rangsangan yang
dapat menyebabkan persepsi gerak. Mach, Ehrenfels, dan JS Mill semua
mengakui bahwa keseluruhan terkadang berbeda dari
jumlah bagian-bagiannya, tetapi mereka semua berasumsi
bahwa entah bagaimana keseluruhannya (Gestalt) muncul
dari karakteristik bagian-bagiannya. Baik
Wundt dan Helmholtz menekankan peran belajar
dalam pengalaman seperti fenomena phi. Namun, Wertheimer
menunjukkan bahwa penjelasan berdasarkan pembelajaran
tidak masuk akal. Sekali lagi menggunakan tachistoscope, ia
menunjukkan bahwa fenomena phi dapat terjadi dalam dua
arah pada waktu yang sama. Tiga lampu diatur lampu tengah menyala, dan tak lama kemudian
dua lampu lainnya menyala, keduanya pada saat
yang bersamaan. Wertheimer mengulangi urutan ini
beberapa kali. Cahaya tengah tampak jatuh ke kiri
dan ke kanan secara bersamaan, dan karena mata
tidak dapat bergerak ke dua arah secara bersamaan,
penjelasan berdasarkan sensasi dari otot mata (teori Wundt) tidak
dapat dipertahankan. Menurut Gestaltists
adalah bahwa otak mengandung medan terstruktur dari
kekuatan elektrokimia yang ada sebelum stimulasi
sensorik.
Isomoerfisme Psikofisik
Kata isomorfisme berasal dari bahasa Yunani iso 'serupa' dan morfik 'membentuk'. Para gestalist memperkenalkan gagasan untuk menggambarkan lebih lengkap hubungan antara
aktivitas lapangan otak dan pengalaman sadar,
Gestaltists memperkenalkan gagasan tentang
isomorfisme psikofisik, yang Köhler gambarkan sebagai
berikut: “Keteraturan yang dialami dalam ruang selalu
identik secara struktural dengan tatanan fungsional
dalam distribusi proses otak yang
mendasarinya”. Gagasan Gestalt tentang isomorfisme
menekankan bahwa otak mengubah data sensorik
yang masuk dan bahwa itu adalah data yang diubah
yang kita alami secara sadar. Mereka mengatakan bahwa
bidang persepsi selalu disebabkan oleh pola yang
mendasari aktivitas otak.
The Constancy Hypothesis
Para Gestaltist menentang the constanty hypothesis ini. Gestaltists sama sekali tidak setuju dengan
konsepsi fungsi otak tersirat oleh constanty hypothesis. Dengan menolak constanty hypothesis,
para Gestaltis menolak filsafat empiris yang menjadi
dasar aliran strukturalisme, fungsionalisme, dan
behaviorisme. The constanty hypothesis menyatakan bahwa peristiwa fisik
individu menyebabkan sensasi individu dan
sensasi ini tetap terisolasi kecuali ditindaklanjuti
oleh satu atau lebih hukum asosiasi atau, dalam
kasus Wundt sengaja diatur ulang. Para Gestaltist menggunakan teori medan
dalam analisis mereka tentang fungsi otak. Gestaltist memandang
otak sebagai konfigurasi dinamis kekuatan yang
mengubah informasi sensorik. Mereka percaya bahwa
data sensorik yang masuk berinteraksi dengan medan
gaya di dalam otak yang menyebabkan medan aktivitas
mental.
Top–Down Analysis
Menurut Gestaltists, aktivitas otak yang
terorganisir mendominasi persepsi kita, bukan rangsangan
yang masuk ke dalam kegiatan itu. Untuk alasan ini,
keseluruhan lebih penting daripada bagian-bagian. Sifat
bagian-bagian ditentukan oleh keseluruhan bukan sebaliknya dimana analisis harus
dilakukan "dari atas ke bawah".
Hukum Pragnanz
Hukum Pragnanz
menegaskan bahwa semua pengalaman kognitif akan
cenderung terorganisir, simetris, sederhana, dan teratur,
mengingat pola aktivitas otak pada saat tertentu. Ahli Gestaltisme merangkum hubungan
antara medan gaya di otak dan pengalaman kognitif ini
dengan hukum Pragnanz.
PERSEPSI
Keteguhan persepsi mengacu pada cara kita
merespons objek seolah-olah mereka sama,
meskipun stimulasi aktual yang diterima indra kita
mungkin sangat bervariasi. Objek fisik seperti itu selalu tetap sama,
sementara rangsangan mata kita bervariasi,
karena jarak, orientasi atau iluminasi objek
konstan itu berubah. Misalnua ada seekor kucing yang berada tersempil di dalam selokan, sehingga terlihat badannya mengecil namun dalam persepsi kita bahwa ukuran kucing itu adalah tetap ketika sebelum dia terhimpit. Alasan
mengapa kita mengalami objek yang sama dalam
berbagai kondisi adalah karena hubungan antara objek
itu dan objek lain tetap sama, dan karena itu mental pengalaman (persepsi) adalah sama. Penjelasan
Gestaltists hanyalah perpanjangan dari gagasan
isomorfisme psikofisik.
PERCEPTUAL GESTALTEN
The Figure–Ground Relationship
Penglihatan pertama dalam figure and ground ini biasanya didasarkan pada persepsi terhadap pengalaman masa lalu. Berikut contoh penerapan figure -ground relationship. Dalam hal ini, bila seseorang sedang melihat satu gambar baik itu figure ataupun ground nya maka orang tersebut hanya terfokus pada gambar tersebut. Pada gambar tersebut yang pertama kali apakah yang dilihat seorang wanita atau laki-laki.
Gestalt Principles of Perceptual Organization
1. Law of Proximity (Hukum Kedekatan)= manusia cenderung untuk melihat atau menelaah suatu objek berdasarkan kedekatan objk tersebut,
2. Law of Similarity ( Hukum Kesamaan) = Manusia cenderung melihat segala sesuatu yang memiliki kesamaan sebagai satu kelompok, golongan, ataupun kesatuan tertentu.
3. Law of Closure ( Hukum Ketertutupan) = Manusia memiliki kecenderungan untuk mengisi celah atau kekosongan suati pola atau objek yang tidak lengkap (melihat sebagai sesuatu yang utuh). Sebagai contoh gambar dibawah adalah kita melihat adanya segitiga dan lingkaran, padahal gambar tersebut adalag lingkaran yang bercelah.
4. Law of Symmetry ( Hukum Simetri)= Manusia cenderung berfokus pada objek yang simetri.
5. Law of Common Fate ( Hukum Nasib Bersama) = Manusia cenderung mengelompokkan yang menghadap, menju ke arah yang sama sebagai satu kesatuan.
6. Law of Continuity ( Hukum Kesinambungan) = Manusia cenderung meneruskan pola atau objek meskipun pola tersebut telah berhenti.
7. Law of Past Experience ( Hukum Pengalaman Masa lalu )= Manusaia pada beberapa keadaan cenderung mengakategorikan objek berdasarkan pengalaman masa lalu. Contonya, sejak kecil kita sudah mengetahui bahwa jika terdapat simbol sendok dan garpu di pinggir jalan berarti akan ada restauran dalam waktu dekat di daerah tersebut.
Subjective and Objective RealityBila kita menerima sensori maka otak akan bertindak berdasarkan sensori tersebut sehingga itu disebut produk dari otak bukan dunia fisik. Koffka menggunakan fakta ini untuk membedakan
antara lingkungan geografis dan lingkungan
perilaku. Baginya,lingkungan geografis adalah
lingkungan fisik, sedangkan lingkungan perilaku
adalah interpretasi subjektif kita tentang lingkungan
geografis. Dengan kata lain, realitas subjektif kita sendiri
mengatur tindakan kita lebih dari lingkungan fisik.
THE GESTALT EXPLANATION
OF LEARNING
Cognitive Trial and Error
Para Gestaltists percaya bahwa
aktivitas otak cenderung menuju keseimbangan, atau
ekuilibrium, sesuai dengan hukum Pragnanz. Menurut Gestaltists, keberadaan
masalah adalah salah satu pengaruh yang mengganggu
tersebut. Jika masalah dihadapi, keadaan disekuilibrium ada
sampai masalah terpecahkan. Biasanya suatu organisme memecahkan masalah berdasarkan perseptual dan secara kognitif. Para Gestaltist menekankan kognitif trial and error sebagai lawan dari perilaku trial and error. Mereka percaya
bahwa organisme akan melihat solusi untuk masalah.
Kohler's Insight
Dalam eksperimen yang khas, menggunakan
kera sebagai subjek, Kohler menggantungkan objek yang
diinginkan, misalnya, pisang, dalam hal tersebut Kohler mencatat bahwa selama periode
penyelesaian masalah, hewan tampak menimbang
situasi. Inilah yang disebut Tolman sebagai kognitif. Menurut Gestaltists, pembelajaran berwawasan jauh
lebih diinginkan daripada pembelajaran yang dicapai baik
melalui menghafal atau trial and error perilaku. Adapun 4 karakter terbentuknya insightful learning:
- Menemukan solusi secara tiba-tiba
- Hal yang dilakukan berdasarkan suatu solusi yang diperoleh biasanya lancar dan bebas dari kesalahan
- Solusi yang diperoleh dari insightful learning biasanya bertahan lama
- Prinsip yang diperoleh melalui insightful learning mudah diterapkan pada masalah lain
Kohler's Transposition Kohler
menggunakan ayam sebagai subjek. Dalam satu percobaan, ia
meletakkan selembar kertas putih dan selembar kertas abu-abu
di tanah dan menutupi keduanya dengan biji-bijian. Dari kedua kertas tersebut ayam lebih memilih kertas abu-abu. Pada tahap kedua Kohler mengganti kertas abu-abu dan hitam dan ayam tersebut memilih kertas hitam. Penjelasan Kohler adalah
bahwa ayam-ayam itu tidak mempelajari asosiasi
stimulus-respons atau respons spesifik, tetapi hubungan. Dari kasus tersebut, hewan telah mempelajari bahwa memilih kertas yang lebih gelap. Sehingga dapat disimpulkan, bagi Gestaltist, suatu organisme mempelajari
prinsip atau hubungan, bukan respons spesifik terhadap
situasi tertentu.
WERTHEIMER'S PRODUCTIVE THINKING
Dalam analisis Wertheimer, pengajaran yang menekankan
logika tidak jauh lebih baik daripada menghafal. Menurut Wertheimer, mencapai pemahaman
melibatkan banyak aspek peserta didik, seperti
emosi, sikap, dan persepsi mereka, serta
kecerdasan mereka. Wertheimer membandingkan pembelajaran
menurut prinsip Gestalt dengan menghafal yang diatur
oleh penguatan eksternal dan hukum asosiasi.Wertheimer berpikir bahwa kita termotivasi untuk
belajar dan memecahkan masalah karena
memuaskan secara pribadi, bukan karena seseorang
atau sesuatu yang lain mendorong kita untuk
melakukannya.
Memory
Koffka berasumsi bahwa setiap peristiwa fisik yang
kita alami menimbulkan aktivitas spesifik di otak. Dia
menyebut aktivitas otak yang disebabkan oleh peristiwa
lingkungan tertentu sebagaiproses memori. Misalnya saat kita pertama kali pergi ke Trans studio nah pengalaman itu menciptakan
pola karakteristik aktivitas otak ini adalah proses
memori. Setelah kita pulang darisana, otak mencatat efek pengalaman kita yang disebut dengan jejak memori. Dengan lebih banyak pengalaman, jejak menjadi lebih
kokoh dan lebih berpengaruh dalam persepsi dan
ingatan kita.
KURT LEWIN’S FIELD THEORY
Meskipun Lewin
biasanya tidak dianggap sebagai pendiri psikologi
Gestalt, ia adalah murid awal, dan sebagian besar
karyanya dapat dilihat sebagai perluasan atau
penerapan prinsip Gestalt pada topik motivasi,
kepribadian, dan dinamika kelompok.
- Life Space = Lewin percaya bahwa
pengalaman dari masa bayi atau masa kanak-kanak dapat
mempengaruhi perilaku orang dewasa hanya jika
pengalaman tersebut tercermin dalam kesadaran seseorang
saat ini.
Ruang hidup seseorang tidak hanya mencerminkan
peristiwa pribadi, fisik, dan sosial yang nyata, tetapi juga
mencerminkan peristiwa imajiner. Jika seseorang percaya
bahwa dia tidak disukai oleh seseorang, kepercayaan itu,
apakah itu benar atau tidak, akan mempengaruhi
interaksinya dengan orang itu. Bagi Lewin, realitas subjektif mengatur
perilaku, bukan realitas fisik.
- Motivation = Seperti Gestaltists lainnya, Lewin percaya bahwa orang mencari
keseimbangan kognitif. Menurut Lewin, baik kebutuhan biologis
maupun psikologis menimbulkan ketegangan dalam ruang
kehidupan, dan satu-satunya cara untuk mengurangi
ketegangan tersebut adalah melalui pemuasan kebutuhan.
Kebutuhan psikologis, yang disebut Lewin kebutuhan kuasi,
termasuk niat seperti menginginkan mobil, ingin pergi ke
konser, atau ingin pergi ke sekolah kedokteran.
- Group Dynamics = Menurut Lewin, sebuah kelompok dapat dilihat
sebagai sistem fisik seperti halnya otak. Dalam kedua kasus,
perilaku elemen individu ditentukan oleh konfigurasi medan
energi yang ada. Para peneliti
menemukan bahwa kelompok demokratis sangat produktif
dan bersahabat, kelompok otoriter sangat agresif, dan
kelompok laissez-faire tidak produktif. Lewin dkk.
menyimpulkan bahwa kepemimpinan kelompok
mempengaruhi ciri-ciri gestalt kelompok dan, pada
gilirannya, sikap dan produktivitas anggota kelompok.
DAMPAK PSIKOLOGI GESTALT
Psikologi Gestalt memainkan peran utama dalam
mengarahkan perhatian psikolog menjauh dari bagian-bagian kecil dari perilaku dan kesadaran dan menuju
aspek holistik dari perilaku dan kesadaran. Psikologi Gestalt sangat memperkaya psikologi
Amerika dan berbuat banyak untuk melawan daya
tarik behaviorisme ekstrem.
PSIKOLOGI KOGNITIF
Topik yang dibahas dalam psikologi kognitif ini mencakup memori, pemebntukan konsep, perhatian, penalran, pemecahan masalah, citra mental, penilaian, dan
bahasa. Dari Yunani Kuno hingga
filsuf empiris dan rasional, banyak yang berusaha menjelaskan kognisi manusia.
Jelas, aliran voluntarisme dan strukturalisme berkonsentrasi pada studi
eksperimental kognisi, dan aliran fungsionalisme mempelajari kognisi dan perilaku. Selanjutnya, ada periode dari sebelum 1930 hingga setelah 1950 ketika
behaviorisme radikal sangat berpengaruh dan diyakini secara luas bahwa peristiwa
kognitif hanyalah produk sampingan (epifenomena) dari aktivitas otak dan dapat
diabaikan.
PENGARUH AWAL
💦Fechner (1860/1966) memimpin Mill dan menunjukkan bahwa peristiwa kognitif dapat dipelajari
secara eksperimental. Ebbinghaus (1885/1964), di bawah
pengaruh Fechner, mempelajari pembelajaran dan
memori secara eksperimental, menemukan fakta-fakta
dasar yang tetap rutin hari ini.
💦Pada gilirannya,
sekolah Würzburg melakukan penelitian tentang topik
kognitif yang lebih luas. Buku William James The Principles of Psychology (1890/1950) merangkum penelitian
yang sudah cukup besar ini tentang kognisi dan
menyarankan banyak kemungkinan tambahan.
💦Bartlett menemukan pola yang
konsisten dalam bagaimana memori menurun dari waktu ke
waktu, tetapi juga dalam bagaimana detail secara tidak
sadar direkonstruksi untuk mempertahankan makna dan
koherensi secara keseluruhan. Dengan kata lain, ia menemukan bahwa informasi
selalu dikodekan, disimpan, dan diingat dalam kaitannya
dengan prakonsepsi dan sikap individu .
Berikut adalah seseorang yang terkait dengan mempopulerkan skema,
kali ini dalam konteks perkembangan kognitif, adalah
Jean Piaget (1896–1980).
JEAN PIAGET
Secara umum, Piaget menunjukkan bahwa
interaksi anak dengan lingkungan menjadi lebih
kompleks dan adaptif karena struktur kognitifnya
menjadi lebih diartikulasikan melalui pematangan
dan pengalaman. Menurut Piaget, struktur kognitif
terdiri dari skema yang menentukan kualitas
interaksi seseorang dengan lingkungan. Untuk anak
kecil, skema ini adalah refleks motorik sensorik yang
hanya memungkinkan interaksi yang paling
mendasar dengan lingkungan. Piaget menguraikan serangkaian tahapan yang
menangkap ontogeni manusia ini, yaitu :
- Sejak lahir- usia 2 tahun = tahap sensorimotor di
mana bayi mengembangkan asosiasi antara sensasi dan
tindakan.
- Usia 2- 7 tahun = Tahap ini yaitu tahap praoperasional adalah ketika anak mulai
memahami bagaimana dunia bekerja dan diatur, serta
bagaimana beroperasi (dengan bahasa dan perilaku) dalam
batasan tersebut.
- Usia 7-11/12 tahun = Tahap operasi konkrit adalah tahap keterampilan pemecahan
masalah yang berkaitan dengan objek nyata berkembang
lebih lanjut selama periode ini, tetapi tidak sampai tahap
akhir.
CYBERNETICS
Pada tahun 1948 Norbert Wiener (1894–1964)
mendefinisikan cybernetics sebagai studi tentang struktur
dan fungsi sistem pemrosesan informasi. Yang menarik bagi
Wiener adalah bagaimana sistem mekanis atau biologis
dapat mencapai tujuan atau menjaga keseimbangan dengan
memanfaatkan umpan balik secara otomatis dari aktivitas
mereka.
PERKEMBANGAN SEKITAR TAHUN 1950-an
Language and Information
Ulasan Chomsky tentang buku Skinner tahun
1957 Perilaku Verbal adalah cetusan pertama dari
"revolusi kognitif." Dalam ulasannya, Chomsky (1959) dengan tegas
menyatakan bahwa bahasa terlalu kompleks untuk
dijelaskan oleh prinsip-prinsip operan, dengan
mempertahankan bahwa otak manusia secara genetik
diprogram untuk menghasilkan bahasa. Menurut Chomsky, setiap anak dilahirkan dengan struktur otak (perangkat
pemerolehan bahasa) yang membuatnya relatif mudah
bagi anak untuk mempelajari aturan bahasa; tata bahasa
yang mendalam dan struktur sintaksis yang umum
untuk semua bahasa. Beberapa
ide Chomsky tentang bahasa dibangun di atas karya
Wilhelm von Humbolt (1767–1835), dan tidak
sepenuhnya revolusioner dalam linguistik. Noam Chomsky
mempresentasikan pandangannya tentang bahasa
sebagai sistem yang diwarisi dan diatur oleh aturan;
dan Miller menjelaskan penelitiannya yang
menunjukkan bahwa orang hanya dapat
membedakan tujuh aspek berbeda dari sesuatu, misalnya rona warna atau nada suara. Selain itu,
orang hanya dapat menyimpan sekitar tujuh unit
pengalaman yang bermakna (potongan) seperti
angka, kata, atau kalimat pendek.
Physiological and Gestalt
Influences
💦Selama tahun
1930-an dan 1940-an, behavioris metodologis seperti Hull dan
Tolman bersedia untuk mendalilkan peristiwa yang
mengintervensi antara rangsangan (S) dan tanggapan (R). Untuk
Hull, variabel-variabel yang mengintervensi ini sebagian besar
bersifat fisiologis, tetapi bagi Tolman, variabel-variabel tersebut terutama kognitif.
💦 Pada tahun 1949 Harry
Harlow (1905–1981) menerbitkan “The Formation of
Learning Sets,” yang memberikan bukti bahwa monyet
menggunakan strategi mental dalam memecahkan
masalah diskriminasi. Temuan seperti itu jelas
bertentangan dengan psikologi behavioristik saat itu.
💦 Pada tahun 1951 Lashley berpendapat
bahwa penjelasan tentang perilaku serial atau berantai
yang ditawarkan oleh para ahli teori pembelajaran tidak
cukup. Sebaliknya, katanya, perilaku terorganisir seperti
itu hanya bisa muncul dari dalam organisme.
A COGNITIVE REVOLUTION
Metafora revolusi kognitif biasanya dikaitkan dengan
karya Kuhn (1996) tentang sosiologi sains. Meskipun
akurat, itu bukan keseluruhan cerita. Menurut Hebb, hanya satu
fase revolusi Amerika dalam psikologi yang terjadi. Ini
adalah fase behavioristik, dan itu menghasilkan
pengetahuan faktual yang tepat dan ketelitian ilmiah
yang sebelumnya tidak ada dalam psikologi. Hebb mendesak agar fase kedua revolusi psikologi
menggunakan ketelitian ilmiah yang dipromosikan oleh
para behavioris untuk mempelajari proses kognitif.
💦 Pada tahun 1960, Miller dan Bruner mendirikan
Pusat Studi Kognitif di Harvard. Universitas paling bergengsi
di Amerika, dan universitas yang mempekerjakan Skinner
sendiri, sekarang memiliki pusat studi kognitif.
💦 Pada tahun 1962 dan 1963, MD
Egger dan Neal Miller menunjukkan bahwa, bertentangan
dengan tradisi, fenomena pengkondisian klasik tidak dapat
dijelaskan dalam kerangka prinsip asosiatif saja. Sebagian
didasarkan pada karya Neal Miller dengan pembelajaran
imitatif, merek baru behaviorisme, yang lebih cocok dengan
psikologi kognitif dan sosial juga muncul pada awal 1960-an.
ARTIFICIAL INTELLIGENCE
The Turing Test
Manusia membayangkan
seorang interogator mengajukan pertanyaan menyelidik
kepada manusia dan komputer, keduanya tersembunyi dari
pandangan interogator. Pertanyaan dan jawaban diketik di
keyboard dan ditampilkan di layar. Satu-satunya informasi
yang boleh diberikan oleh interogator adalah informasi yang
diberikan selama sesi tanya jawab. Manusia diinstruksikan
untuk menjawab pertanyaan untuk mencoba meyakinkan
interogator bahwa dia benar-benar manusia. Komputer
diprogram untuk merespon seperti manusia. Jika setelah
serangkaian tes seperti itu, interogator tidak dapat secara
konsisten mengidentifikasi responden manusia, komputer
melewati:uji Turing dan bisa dikatakan berpikir.
Weak Versus Strong Artificial Intelligence (AI)
Ketika komputer berhasil melalui tes Turing, menurut pendukung AI lemah komputer tetap tidak memiliki mental seperti manusia, komputer hanya dapat mensimulasikan atribut mental manusia. Sedangkan menurut pendukung AI kuat komputer itu bukan hanya alat yang digunakan untuk mempelajari pikiran. Sebaliknya, komputer yang diprogram dengan tepat benar-benar memiliki kemampuan pikiran untuk memahami dan memiliki kondisi mental.Menurut AI yang kuat, pikiran manusia adalah program komputer, dan karena itu tidak ada alasan mereka tidak dapat diduplikasi oleh yang lain. Untuk pendukung AI kuat, komputer tidak mensimulasikan proses kognitif manusia tetapi mereka menduplikasinya.
Are Humans Machines?
Sebagian besar "Newtonians of the Mind" Inggris dan Prancis mengambil konsepsi Newton tentang alam semesta sebagai mesin dan menerapkannya pada manusia. Bagi siapa saja yang percaya bahwa manusia tidak lain adalah mesin yang kompleks dan ada banyak filsuf dan psikolog dengan keyakinan seperti itu tidak akan ada alasan bahwa mesin bukan manusia tidak dapat dibuat yang akan duplikat setiap fungsi manusia. Untuk materialis, seperti behavioris radikal, AI yang lemah dan kuat adalah konsep yang tidak berguna. Penganut materialis dan dualisme tidak menyangkal bahwa mesin bisa dibuat meniru perilaku manusia. Jadi, menjadi dualis tidak menghalangi seseorang untuk melihat manusia sebagai mesin dan dengan demikian merangkul beberapa bentuk AI.
COGNITIVE SCIENCE
Artikel
tahun 1958 oleh Allen Newell, JC Shaw, dan Herbert Simon
secara penting membentuk psikologi pemrosesan informasi. Untuk psikolog, istilah pemrosesan informasi, istilah memasukkan menggantikan
istilah rangsangan, syarat keluaran menggantikan istilah
tanggapan dan perilaku, dan istilah seperti penyimpanan,
pengkodean, pemrosesan, kapasitas, pengambilan,
keputusan bersyarat, dan program menggambarkan
peristiwa pemrosesan informasi seperti memori dan
penalaran yang terjadi antara input dan output. Sebagian
besar istilah ini dipinjam dari teknologi komputer.
The Return of Faculty Psychology
Psikologi kemampuan menganggap serius
heterogenitas mental yang tampak dan
terkesan oleh perbedaan prima facie seperti
antara, katakanlah, sensasi dan persepsi,
kemauan dan kognisi, belajar dan
mengingat, atau bahasa dan pikiran.
Karena, menurut psikolog kemampuan,
penyebab mental dari perilaku biasanya melibatkan aktivitas simultan dari berbagai
mekanisme psikologis yang berbeda, strategi
penelitian terbaik tampaknya akan membagi dan
menaklukkan: pertama mempelajari karakteristik
intrinsik dari masing-masing kemampuan dianggap,
kemudian mempelajari cara di mana mereka
berinteraksi.
The Mind–Body Problem Revisited
Kaum behavioris
radikal “memecahkan” masalah dengan menyangkal keberadaan
pikiran kausal. Bagi mereka, apa yang disebut peristiwa mental
tidak lain adalah pengalaman fisiologis yang kita beri label
kognitif. Artinya, para behavioris radikal “memecahkan” masalah
pikiran-tubuh dengan mengasumsikan materialisme atau
monisme fisik. Psikologi kognitif, bagaimanapun,
mengasumsikan adanya peristiwa mental. un,
mengasumsikan adanya peristiwa mental. Peristiwa-peristiwa ini
kadang-kadang dipandang sebagai produk sampingan dari
aktivitas otak (epifenomenalisme); kadang-kadang sebagai
pemroses informasi sensorik (mekanisme) yang otomatis dan
pasif; dan terkadang sebagai apa yang secara langsung
menyebabkan perilaku (interaksionisme). Sejumlah
psikolog kognitif kontemporer percaya bahwa mereka telah
menghindari dualisme dengan mencatat hubungan erat
antara aktivitas otak tertentu dan peristiwa kognitif tertentu.
CONNECTIONISM
Landasan dari satu jenis
model koneksionis tertentu disebut aturan Hebb,
yang menyatakan sebagai berikut: Jika neuron
aktif secara berurutan atau bersamaan, kekuatan
koneksi di antara mereka meningkat. Ini didasarkan pada hukum asosiatif kedekatan dan frekuensi aristoteles. Hebb sangat menyadari fakta bahwa ide yang
diungkapkan dalam apa yang kemudian dikenal
sebagai aturan Hebb tidak orisinal.
Neural Networks
Connectionism menggunakan sebagai modelnya
sistem neuron buatan yang disebut a jaringan
syaraf. Biasanya ada tiga jenis "neuron" dalam
jaringan saraf: input, tersembunyi, dan output.
Seperti halnya otak, asosiasi antar neuron dalam
jaringan saraf berubah sebagai fungsi dari
pengalaman. Pengaruh dalam jaringan saraf diatur dalam
hierarki. Unit tersembunyi secara matematis
mengubah pola aktivitas masuk yang mereka
terima dari berbagai unit input menjadi pola
output tunggal, yang mereka (unit tersembunyi)
kemudian disiarkan ke unit output.
Back-Propagation Systems
Jaringan saraf yang
diprogram sesuai dengan aturan Hebb dapat
mengoreksi diri sendiri , yaitu pola output secara
bertahap sesuai dengan pola masukan, berdasarkan
pengalaman saja. Kata-kata dimasukkan ke dalam sistem, dan
pengaruhnya bergerak melalui unit-unit tersembunyi
sampai dikodekan menjadi fonem. Fonem adalah unit
terkecil dari suara yang dapat dilihat dalam suatu bahasa.
Sekian pertemuan kita kali ini, sampai jumpaa
terima kasih 💙
Sumber referensi : Buku Hergenhahn
Komentar
Posting Komentar