PSIUM II :About Learning

Nama : Syekar Ayu Ghalbiyah

Nim   : 2110323027

Pengampu Matakuliah :

1. Dwi Puspasari, M. Psi.,Psikolog

2. Mafaza, S.Psi., MSc

3. Liliyana Sari, S.Psi., M.Sc

Haihaii.. selamat pagii semuaa

Udah masuk bulan baru lagi nih heheheeh.. gimana masih pada semangat ga kuliah nya?? atau boleh dong sharing pengalaman belajar kalian xixixix

Kali ini balik lagi pada episode GulirTinta'S14 yeyyy. Pada materi kali ini mimin akan membahas mengenai "Belajar". Loh min, apa aja tuh yang dibahas??

Untuk itu, yuk simak penjelasan materi berikut ini:

I. Pengertian Learning

Learning adalah suatu proses perubahan relatif permanen (relatively permanent )yang kita dapat melalui pengalaman atau praktik langsung. Apa si itu relatively permanent?? 

Relatively Permanent adalah bagaimana beberapa bagian dari otak berubah untuk merekam setelah kita mendapatkan suatu pemahaman yang baru. Dimana sebenarnya proses merekam pemahaman baru tersebut dinamakan proses memori. Dalam proses belajar ini, bila individu  mengalami hal yang positif maka ia akan cenderung melakukan lagi hal tersebut tetapi sebaliknya bila individu merasa pengalaman tersebut adalah hal yang menyakitkan, individu tersebut cenderung untuk tidak ingin melakukannya lagi. 

Contoh : 1. Positif : Bila kita merasa bahwa jika kita terus memahami materi sebelum dimulai kelas, maka kita akan aktif saat pembelajaran di kelas. Maka dari hal tersebut memberikan gambaran bahwa kita cenderung melakukan hal yang sama karena hasilnya positif.

2. Negatif : Bila kita  pernah ditilang oleh polisi di suatu jalan A, maka kita cenderung tidak ingin melewati lagi jalan tersebut ataupun tetap melewati jalan tersebut tetapi diikuti dengan rasa waspada. 

note : tidak semua perubahan memerlukan pembelajaran seperti perubahan pada gen. 

II. All About Learning

Pavlov's Classical Conditioning

Pavlov and Salivating Dogs



Source : meetcortex.com


Penelitian pavlov ini mempelajari sistem pencernaan anjing dimana alat tersebut digunakan untuk mengukur air liur anjing yang dihasilkan ketika mereka diberi makan. Ketika makanan sudah ditempatkan pada mulut anjing, maka secara otomatis air liur akan keluar dimana akan membantu mengunyah dan mencerna makanan. Hal itu disebut sebagai refleks normal atau respon spontan. Hal tersebut tidak bisa dikendalikan dan terjadi secara otomatis. Dalam experiment Pavlov ini yang digunakan sebagai stimulus adalah makanan dan air liur sebagai responnya. Dari penelitian tersebut, Pavlov menemukan :

  1. Sebagian anjing mulai mengeluarkan air liur saat petugas membawa makanan.
  2. Sebagian anjing mengeluarkan air liur saat mendengar suara mangkuk.
  3. Dan yang lainnya mengeluarkan air liur saat memasuki waktu makan mereka. 
Elements of Classical Conditioning

Unconditioned Stimulus (UCS)

Stimulus tidak terkondisikan ini adalah stimulus asli yang timbul secara alami sehingga stimulus ini terjadi dalam alam bawah sadar kita. 

Unconditioned Response (UCR)

Respon yang terjadi secara alami tapa kita sadari. Biasanya respon ini muncul ketika ada stimulus ysng membuat kita merespon stimulus tersebut secara tidak terkondisikan. Dalam eksperimen Pavlov yang menjadi respon tidak tekondisikan adalah saliva anjing. 

Conditioned Stimulus (CS)

Dalam eksperimen Pavlov, yang menjadi stimulus terkondisikan adalah makanan, sedangkan piring dari makanan tersebut sebagai neutral stimulus karena pada awalnya kurang memberikan respon pada air liur anjing. Tetapi setelah beberapa lama, ternyata piring (neural stimulus) bisa menjadi conditioned stimulus karena selalu dipasangkan dengan unconditioned stimulus. 

Conditioned Response (CR)

Conditioned response terjadi ketika respon diberikan kepada conditioned stimulus. Respon ini dipelajari terhadap conditioned stimulus tetapi reaksi nya tidak sekuat unconditioned response. 

Higher-Order Conditioning 

Terjadi ketika conditioned stimulus (CS) yang kuat dipasanagkan dengan neutral stimulus (NS). CS yang kuat sebenarnya dapat memainkan bagian dari UCS dan stimulus yang sebelumnya netral menjadi stimulus terkondisi (CS). Contoh ketika Pavlov mengkondisikan anjingnya mengeluarkan air liur ketika mendengar suara lonceng dengan sebelum mendengar suara lonceng. Dalam hal ini, makanan sebagai UCS tetap harus disajikan untuk mempertahankan CR. Tanpa UCS, pengkondisian tingkat tinggi akan sulit dipertahankan dan secara bertahap akan melemah. 

Classical Conditioning Applied to Human Behavior

1. Phobia

Hal ini terjadi pada penelitian John B. Watson ketika objek penelitiannya dalah Baby Albert. Pada penelitian ini, Watson membuat tikus putih kemudian didampingi dengan suara menakutkan. Pada awalnya, baby Albert tidak takut ketika melihat tikus putih. Namun, ketika didampingi dengan suara yang keras, baby Albert menjerit ketakutan sehingga baby Albert memiliki phobia ketika melihat sesuatu yang berwarna putih dia selalu ketaakutan. Dalam hal ini, tikus berperan sebagai conditioned stimulus (CS) dan suara keras sebagai unconditioned stimulus (UCS). Dan terakhir, ketakukan akan tikus disebut sebagai CR dan ketakutan akan suara keras disebut sebagai UCR. 

2. Conditioned Taste Aversions

Conditioned taste aversions adalah bagaimana reaksi kita terhadap suatu makanan yang memiliki pegalaman buruk terhadap diri kita sehingga kita memiliki keinginan tidak ingin memakan makanan tersebut. Hal tersebut diterapkan pada pecandu alkohol dimana mereka diberikan obat mual setelah mengonsumsi alkohol. 


Operant Conditioning

Operant conditioning adalah suatu metode yang menggunakan positive and negative reinforcement. Skinner berpendapat bahwa setiap tindakan yang dibuat akan ada konsekuensi nya seperti perbuatan positif aka memperoleh penghargaan dan perbuatan negatif akan memperoleh hukuman. Skinner menemukan bahwa 

  • Perilaku yang menimbulkan respon positif akan memperbesar kemungkinan dilakukannya lagi perbuatan tersebut. 
  • Perilaku yang menimbulkan respon negatif akan memperkecil kemungkinan dilakukannya lagi perbuatan tersebut. 
Skinner's Experiment

Skinner memasukkan tikus kedalam box yang dinamakan "Skinner box" dimana box tersebut telah dirancang dengan adanya tombol, alat pemberi makan, lampu, serta lantai yang dialiri listrik. Tentunya hal yang utama adalah tikus dalam keadaan lapar. Saat tikus tersebut merasa sangat lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar dari box untuk mencari makanan. Selama itu, tikus mencari dimana bisa ia mendapatkan makanan. Tidak lama kemudian, tikus tersebut secara tidak sengaja menekan tombol dan keluarlah makanan dari tempat tersebut. Kemudian, secara terjadwal tikus tersebut diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku tikus yang disebut sebagai shaping. Dari percobaan inilah, Skinner berpendapat bahwa operant (pola tingkah laku tikus) berubah sesuai dengan penguatannya. 



Source : Ciccareli, S & White, J. 2018. Psychology Fifth Edition Global Edition. England : Pearson Education Limited




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSIUM II : EMOSI DAN MOTIVASI

History of Psychology

PSIUM II : PERSPEKTIF BIOLOGIS DALAM PSIKOLOGI