PSIUM II : KOGNISI : Thinking, Intelligence, and Language
Nama : Syekar Ayu Ghalbiyah
Nim : 2110323027
Pengampu Matakuliah :
1. Dwi Puspasari, M. Psi.,Psikolog
2. Mafaza, S.Psi., MSc
3. Liliyana Sari, S.Psi., M.Sc
Haloo balik lagi di GulirTinta’s 16…
Kali ini kita akan membahas materi mengenai kognisi..
Nah kalau denger kata kognisi kalian mikirnya apaa sii? Apa ada kaitannya dengan Thinking, inteligence, dan language???
Nah untuk lebih memahami nya, yuk simak blog kali ini
I. Thinking
Thinking adalah bagaimana seseorang memperoleh informasi, memahami, kemudian menyampaikan informasi yang diterima tersebut. Terdapat dua sistem dalam kognitif, yaitu :
- Sistem 1: lebih cenderung bekerja dalam sistem cepat tanpa membutuhkan berpikir dengan keputusan yang matang
- Sistem 2 : lebih cenderung bekerja dalam sistem keadaan lambat dan biasanya berpikir seperti pendidikan formal
Mental Imagery
Mental Imagery adalah representasi mental-pikiran tentang benda-benda yang secara fisik tidak hadir atau terlihat saat itu, namun telah disimpan di dalam ingatan.Imajeri merupakan bayangan pikiran seseorang mengenai obyek atau peristiwa yang pernah dipersepsi, dialami atau hanya dibayangkanseperti orang yang sedang melamun. Contoh : saat kita diminta untuk membayangkan bagaimana situasi jalanan setiap pagi kita akan berangkat sekolah? Tentunya kita langsung membayangkan situasi jalan tersebut meskipun kita tidak berada di tempat itu. Hal tersebut bisa kita lakukan karena adanya pola aktivitas yang sering kita temui.
Di otak, menciptakan citra mental hampir kebalikan dari gambar apa yang kita lihat aslinya. Dengan gambar yang sebenarnya, informasi mengalir dari mata ke korteks visual lobus oksipital dan diproses, atau ditafsirkan, oleh area korteks lain yang membandingkan informasi baru dengan informasi yang sudah ada dalam memori.
Concepts and Prototype
Konsep adalah ide-ide yang mewakili kategori objek, peristiwa, dan kegiatan. Individu bisa memikirkan satu konsep tanpa memikirkan bagian dari keseluruhan konsep tersebut. Misalnya kita sedang memikirkan makanan manis, hanya satu makanan manis yang kita inginkan saja yang kita pikirkan tanpa harus mengingat semua jenis makanan manis. Konsep ini tidak hanya membantu manusia dalam berpikir, tetapi juga berperan dalam pemecahan masalah dan jenis pemikiran yang dilakukan individu setiap harinya dalam berbagai situasi.
Prototype adalah bagaimana seseorang untuk melibatkan penilaian pada hal yang familiar dengan mereka. Misalkan ketika kita diminta untuk menyebutkan “jenis makanan manis” maka hal yang kita pikirkan pertama kali adalah coklat. Hal tersebut bisa muncul pada pikiran kita karena Prototype pada lingkungan kita karakter coklat itu bersifat manis. Sangat jarang ketika kategori makanan manis mereka menyebutkan hal lain yang tidak familiar.
Problem-Solving and Decision-Making
Problem-solving adalah salah satu aspek pengambilan keputusan, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memilih diantara beberapa alternatif . Ada beberapa cara orang memecahkan masalah, yaitu :
- Trial and Errors (mechanical solutions). Mekanisme problem solving ini juga disebut sebagai solusi mekanis karena trial and error ini mengacu pada mencoba satu demi satu hingga menemukan solusi yang tepat. Misalnya, saat kita lupa dengan password email sehingga kita mencoba beberapa kombinasi password yang telah kita ingat.
- Algorithms, adalah prosedur langkah demi langkah untuk memecahkan masalah tertentu dengan menggunakan solusi tertentu. Misalnya, kita seorang pemain rubik, dimana saat memainkan rubik tersebut, kita menggunakan rumus tertentu dengan waktu yang cukup dan menggunakan langkah spesifik. Jadi, pencarian algortima ini adalah bagian yang berguna dari beberapa program komputer.
- Heuristic, adalah sebuah jalan pintas atau short cut. Heuristik adalah menemukan solusi berdasarkan pengalaman sebelumnya yang membantu mempersempit agar solusi untuk masalah lebih mudah ditemui. Ada beberapa jenis heuristic :
- Availability heuristic, adalah situasi dimana kita memperkirakan kemungkinan dari sebuah situasi berdasarkan seberapa mudahnya mengingat informasi yang relevan.
- Representativeness heuristic, adalah heuristic yang digunakan untuk mengkategorikan suatu hal dengan karakteristik tertentu dan merupakan anggota dari kategori tersebut. Dalam heuristic jenis ini, terdapat kemungkinan kesalahan karena tidak semua ciri yang dimiliki suatu kelompok tidak dimiliki oleh yang lain. Contoh : ketika kita menilai bila laki-laki yang memakai sorban dan gamis merupakan seorang ustad. Hal tersebut memiliki dua kemungkinan yaitu bisa jadi benar dan salah karena tidak semua yang memakai gamis dan sorban seorang ustad. Bisa saja mereka orang biasa yang akan menghadiri suatu acara islami.
- Working backward, adalah suatu strategi yang diawali dari hasil akhir dan kembali ke tahapan awal untuk memperoleh hasil akhir tersebut agar memperoleh jawaban dari suatu permasalahan. Pada jenis ini kita menentukan tujuan akhir terlebih dahulu baru memikirkan cara mencapainya. Contoh : ketika kita ingin healing ke suatu pulau, kita memikirkan terlebih dahulu kemana tempat tujuan kita kemudia baru kita menentukan strategi bagaimana dan menggunakan apa kita menuju pulau tersebut.
- Subgoals, adalah cara mencapai tujuan dengan memecah tujuan menjadi subbagian.
- Insight, adalah situasi dimana suatu masalah atau pikiran baru tiba-tiba muncul dalam pikiran. Biasanya kita ketika mendapatkan suatu insight baru cenderung mengatakan "aha" dimana momen solusi tampak langsung datang. Menggunakan insight untuk memecahkan masalah tidak selalu mudah kita dapatkan dan terkadang solusi yang kita butuhkan diluar pikiran kita.
- Creativity, adalah metode pemecahan masalah dengan menggabungkan ide-ide baru.
- Convergent thinking, jenis pemikiran dimana solusinya akan mengarah pada satu jawaban tunggal dengan solusi sebelumnya.
- Divergent thinking, jenis pemikiran dimana solusinya akan mengarah pada banyak ide atau kemngkinan berbeda.
- Functional fixedness, adalah salah satu bias kognitif yang dimana seseorang terbatas dalam menggunakan suatu objek hanya melakukan dengan cara traditional. Dalam hal ini, kita cenderung melihat objek hanya bisa bekerja untuk melakukan satu hal tertentu. Contoh, saat kita ingin membersihkan kaca tetapi tidak ada window squeeze kita cenderung mengatakan "tidak bisa membersihkannya" padahal membersihkan kaca bisa dengan menggunakan kain lap.
- Mental sets, adalah kecenderungan untuk menyelesaikan amsalah dengan menggunakan pola pemecahan masalah yang telah dilakukan sebelumnya.
- Confirmation bias, adalah kecenderungan individu untuk mengambil keputusan berdasarkan hal yang telah diyakini dan cenderung menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinannya.
- Spearman's G Factor, Charles Spearman (1904) melihat kecerdasan sebagai dua kemampuan yang berbeda dimana yang pertama, kemampuan untuk bernalar dan memecahkan masalah diberi label faktor g untuk kecerdasan umum dan kemampuan khusus seperti musik dan seni diberi label faktor s. Spearman terlalu menyederhanakan konsep kecerdasan. Padahal, Guilford (1967) mengusulkan bahwa terdapat 120 jenis kecerdasan.
- Gardener's Multiple Intelligence, Howard Gardner merupakan salah seorang yang mengusulkan beberapa jenis kecerdasan. Gardner percaya bahwa aspek kecerdasan setiap orang berbeda, bersama dengan beberapa aspek kamapuan lainnya. Beliau awalnya mendaftarkan tujuh jenis kecerdasan kemudian menambhakan tipe kedelapan dan kemudian mengusulkan kesembilan tentatif.
- Stenberg's Triarchic Theory, Robert Stenberg berteori bahwa terdapat tiga jensi kecerdasan. Teori ini meliputi kecerdasan analitis, kreatif, dan praktis. Kecerdasan analitis adalah kemampuan untuk memecah masalah menjadi komponen bagian. Kecerdasan ini biasanya bisa diukur dengan tes kecerdasan dan prestasi akademik. Selanjutnya, kecerdasan kreatif adalah kemampuan untuk menghadapi hal baru dan berbeda konsep serta menemukan cara baru untuk mengatasi permasalahan. Dan yang terakhir adalah kecerdasan praktis adalah kemampuan untuk menggunakan informasi yang diperoleh dalam pengaplikasian kehidupan.
- Cattel-Horn-Carroll (CHC Theory), Raymon Cattel menyarankan kecerdasan terdiri dari kecerdasan terkristalisasi, yang mewakili pengetahuan yang diperoleh dan keterampilan dan kemampuan untuk beradaptasi di tempat yang tidak dikenal situasi. John Horn memperluas pekerjaan Cattel dan menambahkan kemampuan lain berdasarkan pemrosesan visual dan pendengaran, memori, kecepatan pemroresan, waktu reaksi, keterampilan kauntitatif dan keterampilan membaca dan menulis. Deskripsi Cattel tentang kecerdasan kristal adalah pemahaman-pengetahuan, kecepatan pemrosesan, kecepatan reaksi dan keputusan serta kecepatan psikomotorik.
- Neuroscience Theories, beberapa peneliti telah menyampaikan bahwa area otak frontal dan parietal memainkan peran penting dan area ini sebenarnya merupakan komponen dari salah satu teori kecerdasan neurosicence terkemuka.
- Binet's Mental Ability Test, ketika itu Binet diminta oleh kementerian pendidikan perancis untuk merancang suatu program tes kecerdasan untuk mengetes anak-anak yang tidak dapat belajar sebaik rekan lainnya sehingga mereka diberikan pendidikan remedial. Akhirnya Binet dan rekannya, Theodore Simon datang dengan tes yang membedakan tidak hanya antara pembelajar cepat atau lambat tetapi juga berdasarkan usia. Mereka memperhatikan bahwa pembelajar cepat tampaknya memberikan jawaban atas pertanyaan yang mungkin diberikan oleh anak-anak yang lebih besar, sedangkan anak yang lambat memberikan jawaban anak sesuai usianya. Binet memutuskan bahwa elemen kunci yang akan diuji adalah usia mental anak atau usia rata-rata pada anak.
- Stanford-Binet and IQ, Lewis Terman seorang peneliti di Universitas Stanford mengadopsi metode psikolog Jerman William Sterm untuk membandingkan usia mental dan usia kronologis. Rumus yang digunakan adalah membagi usia mental (MA) dan usia kronologis (CA) dan mengalikan dengan 100 untuk menghilangkan desimal. Berikut rumusnya dan skor yang dihasilkan disebut dengan Intelligence Quotient (IQ) -> IQ = MA/ CA x 100
- The Wechsler Test, David Wechsler adalah orang pertama yang merancang serangkaian tes yang dirancang untuk kelompok usia tertentu.
- Reability and validity, reability adalah kosnistensi hasil yang diberikan pada tiap individu. Sedangkan validitas adalag sejauh mana tes benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur dan aspek lain dari validitas adalah sejauh mana skor diperoleh akan sesuai degan keterampilan dalam kehidupan nyata.
- Standardization of tests, mengacu pada proses pemberian tes kepada kelompok besar orang yang mewakili jenis orang untuk siapa tes tersebut dirancang dan sampel harus mewakili populasi.
- Norms
- IQ test and cultural bias
- usefulness of IQ test, test IQ biasanya sangat dipakai untuk memprediksi keberhasilan akademis dan kinerja karyawan. Peneliti menunjukkan bahwa motivasi pada diri seseorang berkaitan dengan ukuran IQ.
- Grammar atau tata bahasa, suatu sistem yang mengatur struktur dan penggunaan bahasa. Manusia memiliki kemampuan bawaam untuk memahami dan memproduksi bahasa melalui perangkat yang dinaman LAD yang merupakan program bawaan yang berisi skema manusia.
- Phonemes, adalah bunyi terkecil yang membedakan makna kata.
- Morphemes, adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Morfem berfungsi untuk membedakan kata jamak, tunggal, masa lalu, dan sebagainya.
- Syntax, adalah sistem aturan untuk menggabungkan kata dan frasa guna membentuk kalimat yang benar secara bahasa.
- Semantics, adalah atiran untuk menentukan arti kata dan kalimat.
- Pragmatics, adalah aspek bahasa yang melibatkan cara berkomunikasi yang praktis dengan orang lain.
- Linguistic reativity hypothesis, menyatakan bahwa ketika berpikir dan konsep memengaruhi perkembangan bahasa.
- Cognitive unversalism, menyatkan bahwa konsep bersifat universal dan memengaruhi perkembangan bahasa.
Source : Ciccareli, S & White, J. 2018. Psychology Fifth Edition Global Edition. England : Pearson Education Limited

Komentar
Posting Komentar