PSIUM II : STRESS AND HEALTH
Nama : Syekar Ayu Ghalbiyah
Nim : 2110323027
Pengampu Matakuliah :
1. Dwi Puspasari, M. Psi.,Psikolog
2. Mafaza, S.Psi., MSc
3. Liliyana Sari, S.Psi., M.Sc
Haloo balik lagi di GulirTinta'S 18
Wah ga terasa udah selesai uts ya.. nah gimana uts nya lancar??
Nah, bicara tentang uts, teman-teman sering gasi ketika akan ujian kita sering mengatakan "duh mulai eh kita stress "... Btw, stress itu apa ya? terus kok bisa kita mengatakan stress??
Untuk lebih lanjutnya, yuk simak blog ini
I. STRESS AND STRESSOR
Stress adalah keadaan dimana emosi kita menyesuaikan pada keadaan yang dinilai sebagai sesuatu yang mengancam atau berbahaya. Peristiwa yang menyebabkan stress ini disebut sebagai stressor.
Contoh : Saat pertama kali saya berdomisili di padang, terjadi gempa yang cukup kuat sehingga hal tersebut membuat saya selalu waspada setiap saat. Gempa itulah yang dinamakan stressor dan perasaan waspada saya setiap malam hari ketika akan tidur takut terjadi gempa lagi adalah stress.
Terdapat 2 macam stressor, yaitu:
- Distress, yaitu peristiwa stress yang menyebabkan perasaan tidak menyenangkan dan tidak diinginkan. Contoh : permasalahan putus cinta dan permasalahan finansial keluarga.
- Eustress, yaitu peristiwa stress yang menimbulkan efek psoitif untuk menjaga keseimbangan tubuh dengan baik. Biasanya stress ini berdampak pada meningkatnya motivasi Contoh : ditempatkan jabatan baru di kantor, memiliki anak, dll dimana membutuhkan adaptasi yang lebih tetapi dapat menjadi motivasi agar lebih baik lagi kedepannya.
Tiga jenis kejadian eksternal penyebab stress:
- Catastrophes, yaitu fenomena luar biasa yang terjadi hingga menyebabkan individu yang terdampak membutuhkan penyesuaian dan merasakan ancaman yang berlebihan akan fenomena tersebut. Contoh : Tsunami aceh 2004, dimana hal tersebut menyebabkan penduduk aceh ada yang terkena stress berat hingga sampai sekarang belum bisa melupakan kejadian tersebut.
- Major Life Changes, yaitu penyesuaian yang dirasakan oleh individu akan menyebabkan stress. Contoh: saat kita menjad mahasiswa baru, kita tidak biasa dengan sistem belajar dan tugas di perguruan tinggi, sehingga kita harus bisa menyesuaikan dengan keadaan perguruan tinggi. Hal tersebut tentunya di awal membuat kita merasakan yang namanya stress.
- Hassles, yaitu kerepotan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat hassles setiap usia berbeda. Contoh : anak usia 3-5 tahun merasa sangat stress bila mereka mendapat ejekan dari teman sebayanya. Sedangkan mahasiswa merasa stress bila dihadapkan dengan akan datangnya penilaian semester.
- Pressure, yaitu harapan atau tuntutan yang mendesak bagi suatu individu yang berasal dari lingkungan eksternal. Contoh : saat orang tua kita sangat berharap kita memasuki jurusan tertentu, padahal belum tentu jurusan tersebut sesuai dengan passion kita, maka harapan orang tua tersebut menjadi pressure tersendiri bagi kita.
- Uncontrollability, Ketika ada suatu problem, kita harus pandai dalam mengendalikan diri, karena apabila kita memiliki kendali diri yang rendah, semakin besar pula stress yang kita rasakan.
- Frustration, yaitu keadaan dimana ketika individu dicegah untuk mencapai tujuan tertentu. Tingkat frustasi ini pun juga tergantung seberapa urgen nya tujuan tersebut. Adapun jenis frustasi yaitu frustasi internal atau pribadi dimana frustasi tersebut terjadi karena kesalahan individu. Contoh: saat kita ingin memasuki sekolah kedinasan, minimal tinggi badan untuk perempuan adalah 155 cm, tetapi tinggi kita hanya 152 cm sehingga menyebabkan kita tidak menjadi spesifikasi dari sekolah tersebut. Itu merupakan kesalahan internal kita. Biasanya kesalahan internal ini malah menjadikan suatu kegigihan seperti untuk menambah tinggi, maka harus rajin berenang dan mengonsumsi makanan tinggi kalsium.
- Aggression, yaitu reaksi atau respon fisik ketika telah terjadi frustasi berkali-kali.
- Conflict, yaitu ketika kita berada pada dua pilihan yang bersaing. Ada beberapa jenis konflik, yaitu :
- approach–approach conflict, yaitu situasi dimana terdapat dua pilihan yang sama-sama diinginkan biasa disebut sebagai win-win situation. Dalam mengambil keputusannya pun tidak teralalu sulit. Contoh : saat kita ingin membeli kopi apakah rasa latte atau matcha dimana kedua rasa tersebut rasa yang kita suka.
- avoidance–avoidance conflicts, yaitu situasi dimana terdapat dua pilihan yang tidak menyenangkan (tidak menyenangkan bersifat subjektif). Contoh : saat seseorang sedang demam, orang tersebut tidak bisa menelan obat dan juga dia takut untuk pergi ke dokter. Sehingga dia hanya beristirahat berharap demamnya lekas sembuh.
- approach–avoidance conflicts, yaitu situasi dimana peristiwa itu memiliki aspek positif dan negatif. Contoh : saat saya mengikuti suatu organisasi dan akan diadakan acara keluar kota, maka saya wajib mengikuti nya. Tetapi disisi lain, ada jadwal kuliah yang saya tingalkan. Namun, ketika saya mengikuti organisasi tersebut membuat saya memiliki wawasan dan relasi yang lebih luas.
Seorang ahli endokrinologis, Hans Selye adalah pendiri bidang penelitian stress dan efeknya pada tubuh manusia. Terdapat urutan rekasi fisiologis terhadap stressor yang disebut sebagai general adaptation syndrome (GAS). Berikut tiga tahapnya, yaitu :
- Alarm, yaitu terjadi ketika tubuh pertama kali menerima stressor dan sistem saraf simpatik diaktifkan yang bisa menyebabkan reaksi seperti mual, demam, bahkan sakit kepala.
- Resistance, yaitu terjadi ketika stress berlanjut kemudian tubuh menyesuaikan dengan aktivitas simpatik kemudian melepaskan hormon yang membantu tubuh melawan stressor. Tahap ini berhenti ketika stressor telah berhenti dan tubuh telah menggunakan seluruh sumber dayanya.
- Exhaustion, yaitu ketika sumber daya tubuh telah habis. Kelelahan ini menyebabkan timbulnya penyakit yang berhubungan dengan stress.
The Immune System and Stress
Sebenarnya stress ini sebagai pemicu berbagai penyakit. Terdapat hormon yang berperan dalam membantu sistem kekebalan melawan efek stres yaitu dehydroepiandroste
rone (DHEA) yang berperan melawan stress dan mengaturnya pada hipokampus (bagian sistem limbik). Berikut ada beberapa penyakit yang timbul akibat adanya dukungan stress ini.
- Penyakit Jantung, dalam penyakit ini, stress berperan sebagai pemicu penyakit jantung. Stress bisa mempengaruhi pelepasan bahan kimia sistem kekebalan tubuh seperti sitokin, protein kecil yang terlibat dalam proses inflamasi. Stres juga mempengaruhi fungsi hati, yang tidak diaktifkan saat sistem saraf simpatik terangsang dan tidak memiliki kesempatan untuk membersihkan lemak dan kolesterol dari aliran darah. Hal ini dapat menyebabkan arteri tersumbat dan akhirnya kemungkinan serangan jantung atau stroke.
- Kanker, meskipun stress bukan lah penyebab utama kanker, tetapi stres dapat memiliki efek menekan pada sistem kekebalan tubuh, membuat pertumbuhan kanker yang tidak terkendali lebih mungkin terjadi (Le et al., 2016). Stres telah terbukti menekan pelepasan sel NK (Natural Killer), sehingga lebih sulit bagi sistem tubuh untuk melawan pertumbuhan kanker. Nk ini berfungsi untuk menekan virus dan menghancurkan sel tumor.
Psikologi Kesehatan
Psikologi kesehatan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari mengenai bagaimana kativitas manusia, sifat psikologis serta kaitannya dengan stress yang mempengaruhi kesehatan seluruh tubuh.
Cognitive factors in stress
Cognitive–mediational theory adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh Richard Lazarus dimana menurut Lazarus cara orang berpikir dan menilai stressor itu merupakan faktor utama penyebab stress. Menurut Lazarus, ada dua langkah melihat tingkat bahaya dari stressor, yaitu :
- Primary Appraisal, yaitu langkah pertama dalam menilai stress dan mengaktegorikannya apakah stressor sebagai ancaman atau tantangan. Biasanya bila individu melihat stressor sebagai ancaman, maka emosi yang ditimbulkan pun emosi negatif dan sebaliknya bila individu menganggap sebagai tantangan, maka individu akan merasa lebih siap dalam menghadapinya.
- Secondary Appraisal, yaitu langkah kedua dalam melakukan penilaian stressor yang didukung oleh adanya sumber daya. Jika sumber daya yang dipunya individu cukup bahkan berlebih, maka tingkat stress tersebut semakin kecil.
Personality factors in stress
Terdapat 4 kepribadian yang mempengaruhi tingkat stress seseorang, yaitu :
- Type A Personality, yaitu tipe kepribadian yang cenderung memiliki sikap ambisius, pekerja keras, selalu tampak ingin cepat menyelesaikan pekerjaan, serta memiliki tingkat tersinggung atau marah yang tinggi. Kepribadian dengan tipe ini biasanya memiliki resiko tingkat stress yang tinggi.
- Type B Personality, yaitu tipe kepribadian yang cukup santai dan tidak mudah marah. Sehingga tingkat stress yang dialami tipe kepribadian ini tidak setinggi tingkat stress tipe A.
- Type C Personality, yaitu tipe kepribadian yang menyenangkan tetapi tidak berani untuk mengekspresikan rasa marah nya.
- Hardly Personality, yaitu tipe kepribadian yang memiliki komintmen akan suatu hal.
Social and Cultural factors in stress
Terdapat beberapa faktor sosial dan budaya yang mempengaruhi stress:
- Poverty, yaitu tingkat kemiskinan sangat berpengaruh untuk stress baik orang dewasa maupun anak-anak. Misalnya, kurangnya uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, lingkungan tempat tinggal yang kotor, dan hal lainnya yang belum terpenuhi bisa menjadi penyebab stress untuk anak-anak maupun dewasa.
- Job stress, yaitu stres yang diakibatkan oleh beban kerja. Stres ini juga bisa mempengaruhi untuk timbulnya gejala yang sama dengan gejala lainnya seperti sakit kepala, cemas, mudah marah, dll. Efek yang serius dari job stress ini adalah burnout. Burnout adalah perubahan pikiran, emosi, dan perilaku sebagai akibat dari stres atau frustrasi yang berkepanjangan, yang mengarah ke perasaan kelelahan.
Coping with stress
Coping strategies adalah tindakan yang dilakukan oleh individu untuk mengurangi, menoleransi, serta mengatasi efek stressor yang muncul. Adapun beberapa metode untuk mengatasi stress yaitu:
- Problem-Focused Coping, yaitu usaha untuk mengurangi stressor yang datang dengan cara sendiri. Contoh : saat di kelas kita belum memahami materi yang dijelaskan oleh dosen, maka cara yang kita tempuh agar bisa memahami materi tersebut adalah dengan berdiskusi dengan teman untuk menyederhanakan konsep nya.
- Emotion-Focused Coping, yaitu usaha untuk mengurangi stres melalui emosional yang muncul dari stressor. Contoh: saat kita sedang stress akan menghadapi ujian, maka dengan melihat vidio lucu sejenak akan membuat stress kita berkurang.
Selain dua hal diatas, stress juga dapat diatasi dengan adanya dukungan sosial seperti support teman sebaya, keluarga, dll. Dan juga budaya atau keyakinan dapat dapat mempengaruhi penilaian suatu peristiwa atau bahkan mengurangi stress.
Source : Ciccareli, S & White, J. 2018. Psychology Fifth Edition Global Edition. England : Pearson Education Limited


Komentar
Posting Komentar