PSIUM II : PSIKOLOGI SOSIAL



Nama : Syekar Ayu Ghalbiyah
Nim   : 2110323027
Pengampu Matakuliah :
1. Dwi Puspasari, M. Psi.,Psikolog
2. Mafaza, S.Psi., MSc
3. Liliyana Sari, S.Psi., M.Sc




Hai sekarang bertemu lagi di GulirTinta's 19
Kali ini kita akan membahas mengenai psikologi sosial dan hal lainnya yang terkait dengan psikologi sosial tersebut. Oh iya bicara soal psikologi sosial, kira-kira kita udah familiar lah ya dengan psikologi sosial itu. Jadi, psikologi sosial adalah bagian dari ilmu psikologi dimana mempelajari mengenai proses mental manusia serta proses mental yang menyebabkan suatu tingkah laku tersebut dapat terjadi di lingkungan sosial. Ada tiga bagian dari psikologi sosial, yaitu pengaruh sosial, kognisi sosial, dan interaksi sosial. Nah, yang namanya kita hidup di lingkungan sosial pasti ada yang mempengaruhi kan ya hehehehhe. Hal yang mempengaruhi itu disebut sebagai pengaruh sosial. 






I. Sosial Influence (Pengaruh Sosial)
Pengaruh sosial adalah sejauh mana suatu interaksi sosial mempengaruhi pikiran, tindakan, dan perasaan seseorang dalam berbuat di suatu lingkungan sosial. Artinya, dalam hal ini lingkungan sosial bisa sangat mempengaruhi pembentukan karakter individu secara tidak langsung. 


Conformity
Conformity (konformitas) adalah suatu cara yang dilakukan oleh individu secara sadar untuk mengikuti suatu perilaku dominan dalam suatu masyarakat dengan tujuar agar bisa diterima oleh kelompok sosial tersebut. Contoh : Saat diskusi kelompok berlangsung yang terdiri dari 8 anggota, dimana salah satu anggota bernama Refal. Ketika diskusi PSIUM sedang berlangsung, 7 teman Refal lainnya setuju bahwa kasus yang diberikan oleh dosen cocok terhadap pandangan satu teori tetapi menurut Refal hal tersebut dirasa kurang cocok. Karena Refal hanya memiliki pendapat dari sudut pandang dirinya, sehingga dia tidak berani untuk mengungkapkan dan mengikuti pendapat mayoritas teman kelompoknya. 

Group Behaviour
Secara otomatis, perilaku kita terjadi karena perilaku orang lain.
A. Group Think
Invulnerability, yaitu keadaan dimana anggota kelompok merasa bahwa mereka tidak akan gagal. 

  • Rationalization, yaitu anggota saling mengingatkan aturan dan keputusan yang akan dibuat kelompok tersebut. 
  • Lack of introspection, anggota kelompok merasa bahwa keputusan yang mereka buat adalah yang terbaik tanpa adanya pertentangan moral dll. 
  • Stereotyping
  • Pressure, yaitu anggota saling menekan untuk menanyakan pendapat yang berlaku. 
  • Lack of disagreement, yaitu anggota tidak mengemukakan pendapat mereka yang berbeda dari kelompok. 
  • Self-deception, yaitu anggota hanya menyetujui suatu keputusan yang telah dibuat atau dalam kata lain kita mempercayai hal yang salah dalam suatu kelompok tersebut dan menolak mempercayai hal yang benar. 
  • Insularity, yaitu anggota kelompok tidak akan menerima informasi yang mengkritik kelompok mereka tetapi menggunakan informasi yang meguntungkan untuk kelompok mereka dari kelompok lain. 
B. Group Polarization
Group polarization (polarisasi kelompok) adalah kecenderungan kelompok untuk membuat keputusan yang lebih ekstrem dan hanya berpadangan pada satu sudut pandang baik sebelum dilakukan diskusi kelompok maupun sesudah. Jadi dalam hal ini, bila suatu kelompok menyetujui hal tersebut, maka setelah diskusi kelompok tersebut menjadi semakin setuju dan begitupun bila kelompok menentang suatu hal maka setelah dilakukan diskusi kelompok, kelompok tersebut semakin menentang hal tersebut. Contoh : Terdapat 30 anggota  dalam diskusi, terdapat 7 orang tidak menyeujui keputusan. 23 orang lainnya setuju dengan putusan rapat sehingga setelah didiskusikan ulang, 7 orang tersebut menjadi ikut setuju akan keputusan yang diambil kelompok. 


C. Social Facilitation and Social Loafing
Social facilitation adalah keadaan dimana ketika seseorang merasa bahwa kehadiran seseorang membawa dampak positif pada pelaksanaan tugas yang mudah dan sebaliknya keadaan dimana seseorang merasa terganggu adanya kehadiran orang lain saat tugas yang sulit disebut dengan gangguan sosial. 
Kemudian ada yang disebut sebagai social loafing (kemalasan sosial) yaitu situasi dimana seorang individu merasa tidak perlu mengeluarkan effort lebih ketika bekerja dalam suatu kelompok. Contoh : saat pembagian tugas pembuatan makalah, si A hanya mau mengerjakan tugas sederhana seperti membuat kata pengantar dan cover sedangkan ketika si A ini berada dalam lingkup tugas individu misalnya diskusi di kelas ataupun membuat essay, si A ini sangat antusias karena menurutnya hal tersebut membawa kontribusi bagi dirinya sendiri. Jadi inilah yang disebut sebagai social loafing. 


D. Deindividuation
Contoh : Remaja ketika bermain game online, karena mereka merasa bahwa mereka tidak memeperlihatkan wajah mereka dan identitas lainnya, sehingga mereka lebih bisa berekspresi secara anonim. 


E. Compliance
Compliance (kepatuhan) adalah suatu keadaan dimana adanya permintaan dari seseorang yang memiliki derajat setara dengan kita dalam mengarahkan atau meminta perubahan. Contoh : Seorang teman meminta kita untuk menginap dirumahnya untuk menemani  karena orang tua nya sedang keluar kota. 
Berikut adalah 3 teknik dalam compliance, yaitu :

  1. Foot in the door, yaitu meminta kepada seseorang untuk melakukan sesuatu dimulai dari hal yang kecil kemudian menjadi permintaan yang cukup besar. Contoh : Saat kita meminta tumpangan kepada teman setiap pulang sekolah, karena kita merasa teman tersebut mau membantu kita sehingga kita meminta teman tersebut untuk mengantar kemana pun kita pergi. 
  2. Door in the face, yaitu meminta komitmen yang besar kepada seseorang dan ketika ditolak meminta komitmen yang lebih kecil. Contoh : Saat kita meminta untuk dibelikan iphone, kemudian ditolak oleh orang tua, maka kita kan mencari merk hp dengan harga dibawah iphone agar orang tua mau membelikan. 
  3. Lowball, yaitu keadaan ketika setelah menerima komitmen, akan menaikkan harga dari komitmen awal. Contoh : Saat awal pemasangan wifi, pihak kantor mengatakan bahwa setiap bulan harus membayar sebesar X, tetapi hal tersebut tidak sesuai fakta karena wifi tiap bulannya mengalami gangguan sehingga alasan pihak kantor ingin menaikkan Mbps nya sehingga tiap bulan membayar dengan harga naik dari ketetapan awal. 
F. Obedience
Obedience (ketaatan) adalah suatu keadaan dimana adanya suatu permintaan dari seseorang yang memiliki power dalam suatu kelompok atau lingkungan tertentu. Contoh : Dosen meminta siswa nya untuk membawa buku secara hard copy saat pembelajaran kelas berlangsung. 

II. Kognisi Sosial

Kognisi adalah proses mental yang dialami seseorang untuk menerima, menganalisis, serta menginterpretasikan suatu informasi sosial untuk membuat suatu keputusan. Kognisi sosial ini mempengaruahi pembentukan sikap seseorang. Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk merespon ide, gagasan, atau informasi baik secara positif maupun negatif. Sikap ini bisa muncul dari pengalaman atau pun pengajaran yang seseorang dapatkan. 

The ABC Model of Attitudes

  1. Affective Component, yaitu perasaan seseorang ketika menghadapi suatu situasi yang berkaitan dengan komponen emosional. Contoh : seseorang menyukai musik jazz sehingga bagi mereka ketika mendengarkan musik tersebut menjadi bahagia. 
  2. Behavior Component, yaitu tindakan yang diambil seseorang ketika dihadapkan suatu situasi. Contoh: Seseorang akan merasa bahagia ketika bertemu dengan teman maka dia akan melakukan hal tersebut ketika sedang sedih. 
  3. Cognitive Component, yaitu cara seseorang berpikir tentang suatu situasi berdasarkan dirinya sendiri. Contoh : seseorang yang menyukai kue manis akan berpandangan bahwa semua kue manis itu enak dan kue asin itu tidak seenak kue manis. 

Attitude Formation
Ada beberapa cara dalam pembentukan sikap, yaitu :
  1. Direct Contact, yaitu pembentukan sikap dapat terjadi karena adanya kontak langsung dengan situasi, seseorang, ataupun suatu hal. 
  2. Direct Instruction, yaitu pembentukan sikap dapat terjadi karena adanya intruksi dari orang lain baik itu orang tua maupun teman sebaya. Contoh : larangan dari orang tua untuk tidak keluar pada malam hari. 
  3. Interaction with Others, yaitu pembentukan sikap dapat terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan. Contoh : saat kita berada dalam lingkungan yang menganggap bahwa jurusan X adalah jurusan impian, maka kita juga ikut berpikir bahwa jurusan tersebut jurusan impian dan sulit untuk mencapainya. 
  4. Vicarious Conditioning (Observational Learning), yaitu pembentukan sikap dapat terjadi karena adanya pengalaman atau observasi terhadap lingkungan sekitar. 
Faktor Perubahan Sikap
  1.  Source, yaitu seseorang yang memberi informasi biasanya dianggap ahli atau mereka yang dianggap paling dipercaya dalam suatu lingkungan sosial. Contoh: saat ustad menyampaikan ceramah, maka jemaah akan merasa bahwa informasi tersebut benar dan akan menyadarkan masyarakat untuk mengubah perilaku mereka menjadi lebih baik. 
  2. Message, yaitu penyampaian pesan harus secara jelas dan akan berdampak pada perubahan sikap jika disampaikan kepada orang yang netral atau dengan kata lain belum memihak pihak manapun. 
  3. Target Audience, yaitu target sasaran penerima informasi harus diperhatikan, misalnya usia remaja lebih cenderung mudah dalam menerima informasi baru. 
  4. Medium, yaitu wadah dalam penyampaian informasi. Contoh : saat kita melihat vidio ceramah ustad dan membaca di lama web, akan memiliki dampak atau feel yang berbeda pula. 
Dua jenis pemrosesan informasi, yaitu:
  1. Central-route processing, yaitu jenis pemrosesan pesan yang melibatkan menaruh perhatian pada pesan itu sendiri atau biasa disebut controlled processing. 
  2. Peripheral-route processing, yaitu pemprosesan pesan melibatkan otomatis atau disebut automatic processing. 
Cognitive Dissonance
Cognitive Dissonance, yaitu keadaan dimana apa yang dipikirkan, dirasakan, dan yang dilakukan pada faktanya berbeda.  Ada beberapa hal yang dilakukan untuk mengurangi cognitive dissonance ini, yaitu :
  1. Ubah perilaku yang bertentangan agar sesuai dengan sikap
  2. Ubah kognisi yang bertentangna untuk megubah perilaku
  3. Bentuk kognisi baru yang membenarkan perilaku
Impression Formation
Impression Formation, yaitu keadaan dimana kita melihat sikap orang lain saat pertama kali atau pembentukan kesan yang dibuat oleh orang lain. 
  • Social Categorization, yaitu keadaan dimana seseorang melakukan kategorisasi terhadap orang lain hanya pada pertemuan pertama dan dari eksternal saja. Social categorization ini bisa menyebabkan suatu stereotype. 
  • Implicit Personality Theories, yaitu asumsi tentang bagaimana berbagai jenis orang, ciri-ciri kepribadian, dan tindakan terkait satu sama lain. Contoh :orang yang pendiam biasanya pintar. 
Attribution
Atribusi adalah bagaimana cara kita memahami mengapa seseorang ataupun diri sendiri melakukan suatu hal tersebut. Adapun faktor penyebab atribusi, yaitu :
  1. Situational cause, yaitu penyebab perilaku yang dikaitkan dengan faktor eksternal, seperti penundaan, tindakan orang lain, atau beberapa aspek lain dari situasi tersebut.
  2. Dispositional cause, yaitu penyebab perilaku yang dikaitkan dengan faktor internal seperti kepribadian atau karakter.
Fundamental Attribution Error
Adapun bias dalam atribusi yaitu Fundamental Attribution Error adalah kecenderungan untuk melebih-lebihkan pengaruh faktor dispositional dalam menentukan perilaku sementara mengabaikan faktor situasional.

III. Interaksi Sosial 
Beberapa hal yang termasuk dalam interaksi sosial, yaitu prejudice, diskriminasi, loving, liking, aggression and prosocial behavior.

Prejudice
Prejudice, yaitu pemikiran mengenai perlakuan negatif yang dimiliki oleh suatu anggota dari suatu kelompok sosial tertentu. Dalam hal ini, prejudice berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan dengan objek tersebut. Contoh : kita menilai bahwa kelompok X memiliki gaya hidup yang mewah, sehingga kita berpikiran bahwa mereka adalah orang yang boros.  Berikut beberapa tipe prejudice, yaitu : 
  1. Ageism, yaitu prasangka terhadap orang tua atau remaja
  2. Sexism , yaitu prasangka terhadap gender tertentu
  3. Racism, yaitu prasangka terhadap orang yang berasal dari ras dan etnis berbeda
  4. Prasangka terhadap yang berbeda agama
  5. Prasangka terhadap ekonomi seseorang
  6. Prasangka terhadap tingkat sosial seseorang
  7. Prasangka terhadap kondisi fisik seseorang
Scape Goating
Scape goating, yaitu sekelompok atau seseorang yang mendapatkan atau menanggung suatu kesalahan terhadap apa yang tidak diperbuatnya. Biasanya hal ini terjadi pada orang yang lemah atau tidak memiliki otonomi. 

Asal usul prejudice, yaitu :
  1. Realistic Conflict Theory, yaitu tingkat konflik antar ingroup dan outgroup akan mempengaruhi prejudice dan diskriminasi. Ingroup adalah kelompok sosial yang kita tergabung di dalamnya sedangkan outgroup adalah kelompok sosial yang kita tidak tergabung di dalamnya. Contoh : Ingroup saya adalah ingroup psikologi kelas c angkatan 2021 dan out group nya, saya adalah outgorup dari psikologi kelas b. 
  2. Social Identitiy Theory, yaitu terdapat 3 proses pembentukan identitas seseorang yaitu melalui social categorization yaitu proses mengakategorikan seseorang berdasarkan kesamaan dengan kelompok tertentu, identification yaitu proses pembentukan identitas sosial, dan social comparison yaitu keadaan dimana seseorang membandingkan dirinya dengan kelompok sosial tertentu guna meningkatkan harga diri. 
  3. Stereotype Vulnerabiliy, yaitu efek kesadaran orang tentang stereotip yang terkait dengan kelompok sosial mereka terhadap perilaku mereka.
Mengatasi Prejudice 
  1. Equal Status Contact, yaitu terjadinya kontak antara kelompok-kelompok di mana kelompok-kelompok tersebut memiliki status yang sama dengan tidak ada kelompok yang memiliki kekuasaan atas yang lain.
  2. The "Jigsaw Classroom" , yaitu teknik pendidikan dimana informasi diberikan sebagian secara terpisah sehingga untuk memecahkan masalahnya diperlukan kerja sama. 

Diskriminasi
Diskriminasi, yaitu ketika pemikiran negatif tersebut menjadi alasan seseorang melakukan tindakan dimana individu diperlakukan berbeda dengan orang lain dalam situasi yang seharusnya diperlakukan sama. Contoh : Saat sedang dalam reuni teman sekolah, ada seseorang yang mengomentari teman lain secara frontal dikarenakan penampilannya yang sederhana. 

Interpersonal Attraction
  1. Physical Attractiveness
  2. Proximity—Close to You
  3. Birds of a Feather—Similarity
  4. Reciprocity of Liking 
  5. Interpersonal Relations Online
Triangular Theory of Love
Menurut Robert Stenberg, terdapat 3 komponen utama cinta yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Keintiman mengacu pada perasaan kedekatan yang dimiliki seseorang dengan orang lain atau perasaan memiliki ikatan emosional yang erat dengan orang lain. Gairah mengacu pada gairah emosional dan seksual yang dirasakan seseorang terhadap orang lain. Dan komitmen melibatkan keputusan yang dibuat seseorang tentang suatu hubungan.

The Love Tringle
  1. Romantic love, yaitu kondisi ketika keintiman dan gairah digabungkan. Biasanya romantic love ini bisa menjadi dasar hubungan yang langgeng. 
  2. Companionate love, yaitu kondisi ketika keintiman dan komitmen digabungkan. 
  3. Consummate love, yaitu ketika cinta telah memiliki suatu tujuan akhir. 

Aggression
Aggression yaitu keadaan dimana seseorang mempunyai niat untuk melakukan penghancuran terhadap suatu orang atau kelompok baik secara sengaja baik menggunakan kata-kata atau perilaku fisik. 

Prosocial Behaviour
Prosocial Behaviour, yaitu keadaan dimana seseorang melakukan suatu kegiatan yang bermaksud untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat. 
  1. Alturism, yaitu kondisi dimana seseorang menolong orang lain secara tulus tanpa mengahrapkan imbalan. 
  2. Why People Won't Help, karena adanya bystander effect yaitu kondisi ketika suatu situasi semakin bahaya maka keinginan seseorang untuk memberikan pertolongan pun semakin berkurang. 
  3. Five Decision Points in Helping, terdapat beberapa poin yaitu noticing, defining an emergency, taking responsibility, planning a course of action, dan taking action. 

Source : Ciccareli, S & White, J. 2018. Psychology Fifth Edition Global Edition. England : Pearson Education Limited

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSIUM II : EMOSI DAN MOTIVASI

History of Psychology

PSIUM II : PERSPEKTIF BIOLOGIS DALAM PSIKOLOGI