PSIUM II : PSYCHOLOGICAL DISORDERS
Nama : Syekar Ayu Ghalbiyah
Nim : 2110323027
Pengampu Matakuliah :
1. Dwi Puspasari, M. Psi.,Psikolog
2. Mafaza, S.Psi., MSc
3. Liliyana Sari, S.Psi., M.Sc
1. Dwi Puspasari, M. Psi.,Psikolog
2. Mafaza, S.Psi., MSc
3. Liliyana Sari, S.Psi., M.Sc
Haii balik lagi di blog ini. Materi kali ini sangat seru loh yaitu tentang psychological disorders. Pada penasaran ga apa aja yang termasuk psychological disorders? Yuk, simak blog kali ini
Changing Conceptions of Abnormality
Istilah abnormal ini dari waktu ke waktu mengalami perubahan karena sesuai dengan perkembangan zaman yang berlaku. Pada zaman dahulu, seorang filsuf bernama Hippocrates menemukan suatu istilah yang disebut nya sebagai humor dimana kondisi tersebut terjadi ketika penyakit tubuh dan pikiran yang merupakan akibat dari ketidakseimbangan cairan tubuh. Namun, pada zaman tersebut orang-orang percaya bahwa gangguan yang terjadi adalah karena gangguan oleh roh jahat sehingga mereka melakukan pengobatan melalui ritual keagamaan dan menggunakan teknik trephining. Trephining adalah melubangi tengkorak untuk penyembuhan pada gangguan yang terjadi.
Beberapa Faktor Penanda Abnormalitas:
- Statistical or Social Norm Deviance, yaitu salah satu cara untuk mendefinisikan abnormalitas adalah dengan definisi statistik. Biasanya oerilaku yang sering terjadi dianggap normal dan sebaliknya jika jarang terjadi dianggap tidak normal. Selain itu, juga dilihat sejauh mana perilaku atau tindakan tersebut menyimpang dari norma yang berlaku di masyarakat. Contoh :Di indonesia saat remaja melakukan hubungan seks. Hal tersebut tentunya abnormal karena Indonesia tidak menerapkan hal tersebut sehingga perilaku tersebut dianggap menyimpang. Tetapi penyimpangan dari normal sosial tidak selalu dianggap negatif, ada pula penyimpangan yang dianggap positif. Contoh : Saat remaja perempuan katolik memutuskan untuk menjadi biarawati.
- The Situational Context, yaitu terjadi ketika perilaku seseorang berbeda dari lingkungan sosialnya. Contoh : Saat nenek tua menganggap bahwa dia sedang dikekang oleh anaknya dalam pola makan tetapi sebenarnya itu adalah hal yang wajar agar kondisi dia tetap stabil karena dia menderita diabetes.
- Subjective Discomfort, yaitu kondisi dimana seseorang mengalami ketidaknyamanan subjektif serta tekanan emosional saat terlibat dalam proses kognitif tertentu. Contoh : Seorang perempuan merasa tidak nyaman ketika berkumpul bersama keluarga besar. Namun, semua pikiran atau perilaku tidak selalu membuat subjective discomfort pada orang yang melakukan tindakan tersebut. Contoh : Saat remaja mengikuti geng tawuran dan membunuh salah satu lawan tanpa adanya rasa bersalah.
- Inability to Function Normally, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk masuk ke dalam suatu masyarakat atau tidak bisa menyesuaikan dengan masyarakat baru ataupun lama yang disebut sebagai maladaptif. Contoh : Seorang yang melakukan selfharm ketika terjadi suatu masalah yang menimpanya.
Jadi, pemikiran atau perilaku abnormal yang mencakup setidaknya dua dari lima kriteria ini mungkin paling
baik diklasifikasikan dengan istilah ini psychological disorder, yang didefinisikan sebagai setiap pola perilaku atau
fungsi psikologis yang menyebabkan penderitaan yang signifikan, menyebabkan mereka melukai diri sendiri
atau orang lain, atau mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Models of Abnormality
Penilaian suatu abnormalitas dapat terjadi karena adanya suatu perspektif yang berbeda terhadap hal yang dinilai. Perspektif yang sama lah yang mempengaruhi cara penanganan gangguan psikologis. Berikut beberapa model abnormalitas dilihat dari beberapa model:
1. The Biological Model, Medical Causes for Psychological Disorders, menurut pandangan biologis bahwa gangguan psikologis memiliki penyebab biologis atau
medis (Gamwell & Tomes, 1995). Model ini menjelaskan gangguan seperti kecemasan,
depresi, dan skizofrenia yang disebabkan oleh sistem neurotransmitter yang salah, masalah
genetik, kerusakan dan disfungsi otak, atau beberapa kombinasi dari penyebab tersebut.
2. The Psychological Models, dimana teori kepribadian juga berperan dalam pembentukan pemikiran, perilaku, dan kepribadian abnormal. Berikut beberapa pandangan abnormalitas dari beberapa aliran:
- Psychodynamic View: Hiding Problems, menyatakan bahwa pemikiran dan perilaku yang tidak teratur sebagai akibat dari menekan pikiran, ingatan, dan kekhawatiran yang mengancam seseorang dalam pikiran bawah sadar.
- Behaviorism: Learning Problems, menyatakan bahwa respon seseorang terhadap suatu peristiwa dikondisikan. Contoh : saat kecil, ketika kita terjatuh maka kita menangis dan hal tersebut mendapat perhatian dari orang sekitar. Sehingga, ketika dewasa pun, hal yang terjadi pada kita akan sama saat peristiwa yang sama terjadi.
- Cognitive Perspective: Thinking Problems, terjadi ketika adanya pemikiran kognitif yang menyebabkan perilaku maladaptif. Contoh : saat terjatuh dan menangis, menangis tersebut adalah pemikiran ketakutan yang berlebihan seperti dampak sangat berbahaya dari terjatuh seperti pata tulang, atau dioperasi.
4. Biopsychosocial Perspective, yaitu pengaruh biologi dan sosiokultural tersebut saling berinteraksi sehingga menimbulkan berbagai bentuk
disorder. Contoh : seorang anak mengalami gangguan karena adanya faktor genetik dan dipengaruhi juga oleh lingkungan dan faktor lainnya.
Diagnosing and Classifying Disorders
The DSM-5, WHO (World Health Organization) dalam ) International Classification of Diseases (ICD) telah mencapai edisi ke-10 (ICD-10). Di Amerika Serikat, sumber yang digunakan untuk mendiagnosis gangguan psikologis adalah DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) edisi 5. DSM adalah salah satu sistem yang paling banyak digunakan untuk mengklasifikasikan gangguan mental dan memberikan kriteria diagnostik standar. DSM ini telah direvisi beberapa kali karena pikiran dan pengetahuan tentang psikologis pun juga berkembang. Perubahan yang terjadi mencakup perubahan dalam organisasi gangguan, modifikasi
dalam terminologi yang digunakan untuk menggambarkan gangguan dan gejalanya, dan
membahas kemungkinan penilaian dimensi untuk beberapa gangguan dalam versi manual yang
akan datang.
Beberapa dari 20 kategori gangguan yang dapat didiagnosis termasuk gangguan
depresi, gangguan kecemasan, spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya,
gangguan makan dan makan, dan gangguan perkembangan saraf seperti ADHD (American
Psychiatric Association, 2013). Kategori lain termasuk gangguan kepribadian, cacat
intelektual, trauma dan gangguan terkait stres, dan gangguan obsesif-kompulsif dan terkait.
Faktanya, kemajuan berkelanjutan dalam neuroimaging,
genetika, dan ilmu kognitif telah membuat National Institute of Mental Health (NIMH) menyerukan
perubahan dalam cara kita berpikir dan mempelajari gangguan melalui peluncuran proyek Kriteria
Domain Penelitian (RDoC) mereka. Proyek ini mempromosikan penelitian yang menggabungkan
semua kemajuan ini, serta jenis informasi lainnya, untuk memberikan basis pengetahuan untuk
sistem baru dalam mengklasifikasikan gangguan psikologis (Insel, 2013). Matriks penelitian RDoC
adalah kerangka kerja yang terdiri dari beberapa domain, masing-masing berisi ide atau konstruksi
tertentu yang dapat diukur dan terkait. Tujuan dari matriks adalah
untuk menyediakan sarana dimana gangguan dapat dikonseptualisasikan dan diukur dengan lebih baik,
berdasarkan pendekatan penelitian yang lebih modern dalam genetika dan ilmu saraf selain dari ilmu
perilaku.
Pro dan Kontra Labels
Rosenhan menyimpulkan bahwa label psikologis tahan lama dan kuat, tidak hanya
mempengaruhi bagaimana orang lain melihat pasien gangguan jiwa tetapi juga bagaimana pasien
melihat diri mereka sendiri (Rosenhan, 1973).
Disorders of Anxiety, Trauma, and Stress
Anxiety Disorders
Anxiety disorders adalah terjadi ketika terjadi gejala yang dominan yaitu kecemasan berlebihan dan tidak realistis. Kemudian ada istilah yang disebut dengan Free-floating anxiety yaitu kecemasan yang tampaknya tidak terkait dengan faktor yang realistis dan spesifik yang
diketahui dan sering kali merupakan gejala gangguan kecemasan (Freud, 1977). Berikut beberapa tipe dari anxiety disorders, yaitu :
1. Phobic Disorders
a. Social Anxiety Disorders, yaitu kecemasan ketika berinteraksi dengan orang lain atau situasi sosial. Orang dengan gangguan social anxiety ini biasanya menghindari situasi yang membuatnya merasa malu atau tidak nyaman ketika dalam keramaian. Biasanya bentuk social anxiety ini berupa demam panggung, takut berbicara di depan umum dan takut buang air kecil ke toilet umum.
b. Specific Phobias, yaitu ketakutan terhadap situasi tertentu. Misalnya, klaustrofobia (takut berada di ruang kecil), ketakutan akan suntikan (trypanofobia), takut akan perawatan gigi (odontofobia ), takut darah (hematofobia), takut mencuci dan mandi (ablutofobia), dan takut ketinggian (akrofobia).
a. Social Anxiety Disorders, yaitu kecemasan ketika berinteraksi dengan orang lain atau situasi sosial. Orang dengan gangguan social anxiety ini biasanya menghindari situasi yang membuatnya merasa malu atau tidak nyaman ketika dalam keramaian. Biasanya bentuk social anxiety ini berupa demam panggung, takut berbicara di depan umum dan takut buang air kecil ke toilet umum.
b. Specific Phobias, yaitu ketakutan terhadap situasi tertentu. Misalnya, klaustrofobia (takut berada di ruang kecil), ketakutan akan suntikan (trypanofobia), takut akan perawatan gigi (odontofobia ), takut darah (hematofobia), takut mencuci dan mandi (ablutofobia), dan takut ketinggian (akrofobia).
c. Agoraphobia, Ini adalah ketakutan berada di tempat atau situasi yang sulit atau tidak mungkin
untuk melarikan diri jika terjadi kesalahan (American Psychiatric Association, 2013). Selain itu,
kecemasan hadir di lebih dari satu situasi. Seseorang didiagnosis dengan agorafobia jika mereka
merasakan kecemasan dalam setidaknya dua dari lima kemungkinan situasi seperti menggunakan
transportasi umum seperti bus atau pesawat, berada di tempat terbuka seperti di jembatan atau di
tempat parkir, berada di ruang tertutup. seperti toko kelontong atau bioskop, mengantre atau
berada di keramaian seperti di konser, atau berada di luar rumah sendirian.
2. Panic Disorder
Berawal dari panick attack yang dialami terus menerus kemudian menjadi panic disorders. Panick attack terjadi dengan gejala jantung berdebar-debar, napas cepat, sensasi "keluar dari tubuh", pendengaran dan
penglihatan tumpul, berkeringat, dan mulut kering.
3. Generalized Anxiety Disorder
Adalah gangguan di mana seseorang memiliki
perasaan takut dan malapetaka yang
akan datang bersama dengan fisik
gejala stres, yang berlangsung 6
bulan atau lebih. Biasanya orang dengan gangguan ini cenderung mengkhawatirkan
situasi, orang, atau objek yang
sebenarnya bukan masalah,
ketegangan, nyeri otot, masalah tidur,
masalah konsentrasi
Other Disorders Related to Anxiety
1. Obsessive-Compulsive Disorder, yaitu gangguan ketika pikiran terus berulang dan terobsesi akan suatu hal yang menciptakan kecemasan sehingga harus dilakukan dengan melakukan berulang kali kegiatan tersebut. Contoh : Shabrina ingin pergi ke kampus, sebelum itu ia harus sarapan terlebih dahulu. Saat makan di meja makan, ternyata ada selai yang tertumpah sehingga Shabrina mem bersihkannya. Namun, ketika selai tersebut sudah tidak ada lagi di meja itu, Shabrina tetap membersihkan meja tersebut karena berpikir bahwa belum bersih seutuhnya sehingga dia berulang kali mengelap meja tersebut agar meredakan kecemasannya.
2. Acute Stress Disorder (ASD) and Posttraumatic Stress Disorder (PTSD). Acute Stress Disorder adalah keadaan dimana seseorang mengalami stress yang diakibatkan oleh pegalaman traumatik dan termasuk kecemasan, gejala disosiatif (seperti mati rasa
emosional / kurang responsif, tidak menyadari lingkungan, amnesia disosiatif), mimpi buruk
berulang, gangguan tidur, masalah konsentrasi, dan kilas balik mimpi selama 1 bulan setelah
peristiwa tersebut. Ketika gejala ASD berlangsung selama lebih dari satu bulan, hal tersebut akan menimbulkan PTSD ( Posttraumatic Stress Disorder ). PTSD parah telah
dikaitkan dengan penurunan ukuran hipokampus pada anak-anak
dengan gangguan tersebut (Carrion et al., 2007). Hipokampus penting
dalam pembentukan memori deklaratif jangka panjang yang baru
Causes of Anxiety, Trauma, and Stress Disorders
Berikut beberapa faktor penyebab anxiety, trauma, and stress :
- Behavioral and Cognitive Factors, Para behavioris percaya bahwa reaksi perilaku cemas dapat dipelajari. Mereka melihat fobia, misalnya, sebagai tidak lebih dari respons ketakutan yang dikondisikan secara klasik, seperti halnya dengan "Little Albert" (Rachman, 1990; Watson & Rayner, 1920). Sedangkan psikolog kognitif melihat gangguan kecemasan sebagai akibat dari proses berpikir yang tidak logis dan tidak rasional. Salah satu cara di mana orang dengan gangguan kecemasan menunjukkan pemikiran irasional (Beck, 1976, 1984) adalah melalui magnification. Magnification adalah kecenderungan untuk menyatakan situasi sebagai jauh lebih berbahaya atau penting daripada yang sebenarnya. Psikolog kognitif-perilaku mungkin melihat kecemasan terkait dengan proses pemikiran terdistorsi lainnya yang disebut all-or-nothing thinking, di mana seseorang percaya bahwa kinerjanya harus sempurna atau hasilnya akan gagal total. Lalu ada yang disebut sebagai Overgeneralization adalah membuat suatu kesimpulan tanpa fakta untuk mendukung kesimpulan itu dan juga istilah minimization adalah memberikan sedikit atau tidak ada penekanan pada keberhasilan seseorang atau peristiwa dan sifat positif.
- Biological Factors.Studi neuroimaging fungsional, mengungkapkan bahwa amigdala, sebuah area dari sistem limbik, lebih aktif pada orang fobia yang menanggapi gambar laba-laba daripada orang nonfobia dan juga lebih aktif pada individu dengan PTSD dan gangguan kecemasan sosial, menunjukkan pengkondisian yang berlebihan dan tanggapan yang berlebihan
- Cultural Variations, gangguan ini terjadi sesuai dengan budaya yang berlaku di tempat tersebut.
Somatoform Disorders
Somatoform Disorders merupakan Gangguan somatoform Gejala fisik yang menyerupai penyakit atau cedera yang tidak ada penyebab fisik yang dapat diidentifikasi. Gangguan somatoform terjadi ketika seseorang memiliki gejala fisik yang menyerupai penyakit atau cedera (misalnya kelumpuhan, kebutaan, penyakit, atau nyeri kronis), yang tidak dapat diidentifikasi penyebab fisiknya.
Berikut macam dari gangguan somatoform:
- Hypochondriasis juga dikenal dengan kecemasan kesehatan merupakan keadaan di mana seseorang memiliki keyakinan penuh bahwa mereka mempunyai penyakit fisik parah yang dialaminya meskipun tidak adanya penyebab medis yang ditemukan (Olatunji dkk., 2009). Seligman, Walker, dan Rosenhan (2001) Hipokondriasis merupakan bentuk gangguan somatoform yang berada pada kondisi individu yang memiliki keyakinan akan derita sebuah penyakit tertentu.
- Conversion Disorders merupakan gangguan di mana fungsi fisik pada manusia tidak berjalan dengan baik disertai dengan gejala neurologis yang berkaitan dengan fungsi motorik ataupun sensoris (Pitawati, 2018).
- Gangguan Dismorfik Tubuh ini ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
- Gangguan Nyeri ini ditandai oleh gejala nyeri yang sematamata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
Dissociative Disorders: Altered Identities
Dissociative disorders adalah adalah gangguan di mana ada istirahat dalam kesadaran, memori, rasa identitas, atau beberapa kombinasi.Berikut jenis dissociative disorders:
1. Dissociative Amnesia and Fugue, Dalam amnesia disosiatif (dissociative amnesia), individu tidak dapat mengingat informasi pribadi seperti nama sendiri atau peristiwa pribadi tertentu-jenis informasi yang terkandung dalam memori jangka panjang episodik. Amnesia disosiatif mungkin terdengar seperti amnesia retrograde, tetapi penyebabnya berbeda, yaitu pada amnesia retrograde, kehilangan ingatan biasanya disebabkan oleh cedera fisik, seperti pukulan di kepala. Dalam amnesia disosiatif, penyebabnya adalah psikologis daripada fisik. "Pukulan" adalah pukulan mental, bukan fisik. Hilangnya memori yang dilaporkan biasanya dikaitkan dengan pengalaman stres atau trauma emosional, seperti pemerkosaan atau pelecehan masa kanak-kanak (Chu et al., 1999; Kirby et al., 1993).
Berikut beberapa penyebab dissociative disorders, yaitu :
- Psychodynamic, yaitu pikiran dan perilaku yang ditekan adalah mekanisme pertahanan utama dan mengurangi rasa sakit emosional.
- Cognitive and behavioral, yaitu penghindaran pikiran terkait trauma diperkuat secara negatif oleh pengurangan kecemasan dan rasa sakit emosional.
- Biological, yaitu dukungan untuk perbedaan aktivitas otak dalam kesadaran tubuh telah ditemukan pada individu dengan gangguan depersonalisasi/derealisasi.
Disorders of Mood: The Effect of Affect
Disorders of mood adalah melibatkan gangguan
dalam suasana hati atau emosi yang mana hal tersebut bisa terjadi ringan atau berat. Terdapat 2 jenis disorders of mood, yaitu :
- Major depressive disorder, yaitu suasana hati yang sangat tertekan; gangguan mood yang paling sering didiagnosis, dua kali lebih sering terjadi pada wanita.
- Bipolar disorders, yaitu pengalaman suasana hati dari normal ke manik, mungkin dengan episode depresi, atau pengalaman suasana hati normal yang terganggu oleh episode depresi dan hipomania.
Beberapa penyebab dari disorders of mood, yaitu :
- Psychodynamic, yaitu depresi adalah kemarahan yang ditekan yang awalnya ditujukan pada orang tua atau tokoh otoritas lainnya.
- Behavioral, yaitu depresi terkait dengan ketidakberdayaan yang dipelajari.
- Social cognitive, yaitu pemikiran yang terdistorsi dan pikiran negatif yang merugikan diri sendiri.
- Biological, yaitu variasi dalam sistem neurotransmitter (misalnya, serotonin, norepinefrin, atau dopamin) atau aktivitas spesifik otak lainnya.
Eating Disorders and Sexual Dysfunction
Berikut beberapa jenis eating disorders, yaitu :
- Anorexia nervosa,yaitu suatu kondisi di mana seseorang mengurangi makan ke titik berat badan mereka secara signifikan rendah, atau kurang dari yang diharapkan minimal. Gangguan makan ini juga yang mengakibatkan berat badan sangat rendah.
- Bulimia nervosa, yaitu suatu kondisi di mana seseorang mengembangkan siklus "binging", atau makan berlebihan dalam jumlah besar sekaligus, dan kemudian menggunakan metode yang tidak sehat untuk menghindari penambahan berat badan. Orang dengan gangguan ini melibatkan siklus makan berlebihan dan penggunaan metode yang tidak sehat untuk menghindari penambahan berat badan; tidak seperti anoreksia, mereka yang menderita bulimia akan cenderung mempertahankan berat badan normal.
- Binge-eating disorder, yaitu suatu kondisi di mana seseorang makan berlebihan, atau binges, pada sejumlah besar makanan sekaligus, tetapi tidak seperti bulimia nervosa, individu kemudian tidak membersihkan atau menggunakan metode tidak sehat lainnya untuk menghindari penambahan berat badan.
Sexual dysfunctions adalah masalah dengan fungsi seksual
atau aspek fisik dari tindakan seks. Penyebabnya mungkin organik(yaitu, sumber atau gangguan fisik) atau
psikogenik(yaitu, kekhawatiran dan kecemasan).
Schizophrenia: Altered Reality
Skizofrenia adalah gangguan psikotik
melibatkan istirahat
dengan kenyataan dan
gangguan dalam
berpikir, emosi, perilaku,
dan persepsi. Gejala Skizofrenia :
1. Delusions
Gangguan dalam berpikir adalah gejala umum dan disebut delusi. Meskipun delusi tidak menonjol pada semua orang dengan skizofrenia, delusi adalah gejala yang diasosiasikan kebanyakan orang dengan gangguan ini. Delusi adalah keyakinan palsu tentang dunia yang dipegang seseorang dan cenderung tetap dan tak tergoyahkan bahkan dalam menghadapi bukti yang menyangkal delusi. Delusi skizofrenia yang umum :
- Delusions of persecution atau delusi penganiayaan, di mana orang percaya bahwa orang lain mencoba menyakiti mereka dengan cara tertentu.
- Delusions of reference atau delusi referensi, di mana orang percaya bahwa orang lain, karakter televisi, dan bahkan buku secara khusus berbicara dengan mereka.
- Delusions of influence atau delusi pengaruh, di mana orang percaya bahwa mereka dikendalikan oleh kekuatan eksternal, seperti iblis, alien, atau kekuatan kosmik.
- Delisions of grandeur atau grandiose delusions, di mana orang yakin bahwa mereka adalah orang kuat yang dapat menyelamatkan dunia atau memiliki misi khusus.
2. Disturbed or disorganized thoughts, sering kurang struktur atau
relevansi, paling sering ditampilkan melalui pidato yang tidak teratur.
3. Hallucinations, dapat terjadi pada modalitas sensorik apa pun,
tetapi halusinasi pendengaran adalah yang paling umum.
4. Changes in mood
5. Disorganized or odd behavior, mulai dari periode imobilitas hingga
gerakan aneh atau seringai wajah; gerakan yang sangat berlebihan atau
sama sekali tidak ada disebut katatonia.
Personality Disorders: I’m Okay, It’s
Everyone Else Who’s Weird
Personality disorders adalah gangguan di mana seseorang
mengadopsi pola perilaku yang persisten,
kaku, dan maladaptif yang mengganggu
interaksi sosial yang normal. Berikut tiga jenis kepribadian, yaitu :
- Cluster A, yaitu pemikiran dan perilaku yang aneh atau eksentrik.
- Cluster B, yaitu pemikiran dan perilaku yang sangat dramatis, emosional, atau tidak menentu. \
- Cluster C, yaitu pemikiran dan perilaku yang dominan cemas atau takut.
Gangguan ini terbagi lagi menjadi 2 yaitu antisocial personality disorder dan borderline personality disorder:
- Antisocial personality (ASPD) adalah gangguan di mana seseorang menggunakan orang lain tanpa mengkhawatirkan hak atau perasaan mereka dan sering berperilaku impulsif atau sembrono tanpa memperhatikan konsekuensi dari perilaku itu.
- Borderline personality (BLPD) adalah pola kepribadian maladaptif di mana orang tersebut murung, tidak stabil, tidak memiliki rasa identitas yang jelas, dan sering menempel pada orang lain dengan pola merusak diri sendiri, kesepian kronis, dan kemarahan yang mengganggu dalam hubungan dekat.
Source : Ciccareli, S & White, J. 2018. Psychology Fifth Edition Global Edition. England : Pearson Education Limited

Komentar
Posting Komentar