PSIUM II : Teori Kepribadian

Nama : Syekar Ayu Ghalbiyah

Nim   : 2110323027

Pengampu Matakuliah :
1. Dwi Puspasari, M. Psi.,Psikolog
2. Mafaza, S.Psi., MSc
3. Liliyana Sari, S.Psi., M.Sc


Haii selamat datang di blog materi teori kepribadian. Nah, readers udah excited ga buat baca apa si sebenarnya kepribadian itu dan apa saja teori yang melandasinya?? Yuk, simak blog kali ini

I. Pengertian
Kepribadian adalah ciri khas yang dimiliki oleh seseorang dalam berpikir, bersikap, serta bertingkah laku. Kepribadian ini tentunya berbeda dengan tempramen dan karakter tetapi memiliki kaitan. Karakter dan tempramen merupakan bagian penting dari kepribadian karena  setiap kepribadian orang dewasa merupakan kombinasi dari temperamen dan sejarah pribadi keluarga, budaya, dan waktu di mana mereka dibesarkan (Kagan, 2010). Karakter sendiri merupakan penilaian dari moral dan perilaku seseorang. 

Freud’s Conception of Personality
Freud percaya bahwa pikiran terbagi menjadi tiga, yaitu preconscious, conscious, and unconscious. Kemudian, Freud percaya bahwa setiap kepribadian itu terbagi menjadi beberapa tingkat yaitu :

Source : Medium.com




  1. Id, adalah pikiran atau keinginan yang terdapat di dalam bawah sadar kita. Biasanya Id ini bersifat untuk memenuhi kesenangan. Contoh : Widya ingin membeli barang yang mahal diluar kemampuannya. 
  2. Ego, adalah cara dimana menghadapi suatu realita. Contoh : Karna barang tersebut mahal, Widya berusaha menabung untuk bisa membeli barang tersebut. 
  3. Superego, adalah aspek moral dalam membuat suatu penilaiana yang biasanya di dapat dari pengajaran oleh orang tua dan lingkungan. Contoh : Widya berpikir lagi barang tersebut benar-benar berguna atau tidak untuk dirinya. Bila barang tersebut kurang berguna maka akan mubazir dan itu akan berdosa. Hal tersebut sesuai dengan moral yang diajarkan oleh orang tua nya. 
Stages of Personality Development 
Freud yakin bahwa perkembangan terjadi pada setiap tahapan psikoseksual yang ditentukan oleh perkembangan seksualitas anak. Pada setiap tahap, zona sensitif seksual yang berbeda atau area tubuh yang menghasilkan perasaan menyenangkan, menjadi penting dan dapat menjadi sumber konflik. Konflik yang tidak sepenuhnya diselesaikan dapat mengakibatkan fiksasi, atau “terjebak” sampai tingkat tertentu dalam tahap perkembangan. Anak mungkin tumbuh menjadi dewasa tetapi masih akan membawa emosional dan psikologis dari tahap terpaku sebelumnya. Berikut  beberapa tahapan perkemabangan :
  1. Tahap Oral, tahapan yang terjadi pada anak dalam usia 18 bulan pertama. Pada tahap ini zona sensitif pada anak adalah bagian mulut. Konflik yang biasanya muncul adalah proses penyapihan dimana anak beralih minum susu menggunakan cangkir (tidak lagi dari ASI ibunya). Penyapihan yang terjadi terlalu cepat atau terlalu lambat dapat mengakibatkan terlalu sedikit atau terlalu banyak kepuasan terhadap kebutuhan oral anak, yang mengakibatkan aktivitas dan sifat kepribadian. Adapun contoh kepribadian orang dewasa yang terpaku secara oral : menghisap atau menggigit kuku, mengunyah permen karet, merokok, berbicara terlalu banyak, serta bisa juga makan dan minum terlalu  banyak. 
  2. Tahap Anal, tahapan yang terjadi ketika anak berusia 18-36 bulan. Freud yakin  bahwa zona sensitif anak beralih dari mulut ke anus. Pada tahap ini kesenangan pada anak biasanya menahan dan membuang kotoran mereka sesuka hati. Konflik dalam tahap ini adalah ajaran dalam menggunakan toilet ketika akan melakukan hal tersebut. 
  3. Tahap Phallic, seiring perkembangan usia yang terjadi pada anak yang terjadi kisaran usia 3-6 tahun, zona sensitif nya pun bergeser ke alat kelamin. Anak juga sudah bisa membedakan jenis kelamin. Kebangkitan keinginan seksual dan minat pada alat kelamin inilah yang disebut Freud sebagai  fase phallic.Lalu ada yang namanya castration anxiety adalah keadaan dimana anak laki-laki akan takut kehilangan penis. Kemudian, pada tahap ini pun terjadi yanga namanya Oedipus Complex/ Electra Complex yaitu keadaan dimana anak memiliki ketertarikan seksual dalam artian rasa ingin tahu akan perasaan cinta dan kasih sayang pada orang tua lawan jenis mereka mereka dan rasa cemburu pada orang tua yang sejenis mereka. Oedipus complex terjadi pada anak laki-laki dan Electra complex terjadi pada anak perempuan.  Istilah Oedipus ini diambil dari seorang raja dalam tragedi Yunani yang membunuh ayah nya dan menikahi ibunya. Biasanya oknum yang terpaku pada tahap ini akan sering menunjukkan perilaku seks bebas atau bisa juga bila wanita mengalami fiksasi pada tahap ini mereka cenderung menikahi orang yang lebih tua darinya untuk merasakan sosok ayah. 
  4. Tahap Laten, tahapan yang terjadi saat anak berusia 6 tahun hingga pubertas. Anak akan tetap berada pada perkembangan seksual yang tersembunyi. Pada tahap ini anak bertumbuh secara intelektual, fisik, dan sosial. Biasanya pada tahap ini anak lebih menyukai untuk bermain dengan teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Contoh : Nandes hanya ingin bermain robot robotan dengan Ferry. Dia tidak suka bila bermain barbie dengan siti. 
  5. Tahap Genital, yaitu tahapan terakhir dalam  psikoseksual Freud yang terjadi pada masa pubertas. Keinginan seksual sudah masuk ke dalam kesadaran dan individu bergerak menuju dewasa perilaku sosial dan seksual. 
The Neo-Freudians 
Awalnya ide-ide yang dicetuskan oleh Freud ini mendapat banyak penolakan dari komunitas dokter dan psikolog yang berkembang. Akhirnya, sejumlah psikoanalis awal, keberatan dengan penekanan Freud pada biologi dan khususnya pada seksualitas, melepaskan diri dari interpretasi yang ketat dari teori psikoanalitik, lalu mengubah fokus psikoanalisis. Mereka pun mempertahankan konsep yag dicetuskan oleh Freud seperti Id, Ego, dan Superego dan mekanisme pertahanan. Berikut beberapa Neo-Freudian yang terkenal, yaitu :
  1. Carl Jung, Jung tidak setuju dengan sifat alam bawah sadar yang diusulkan oleh Freud. Jung percaya bahwa alam bawah sadar hanya menyimpan ketakutan, dorongan, dan ingatan pribadi. Jung percaya bahwa terdapat ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi adalah berawal dari pengalaman-pengalaman manusia yang muncul secara sadar kemudian dilupakan. Ketidaksadaran pribadi ini berada dalam posisi sebagai bagian sadar dan tidak sadar dari saeorang manusia. Kemudian ketidaksadaran kolektif adalah suatu perilaku yang sudah ada di masa lalu yang sifatnya tidak sadar. Ingatan manusia yang kolektif dan universal disebut arketipe. Sebenarnya ada banyak arketipe, tetapi yang terkenal hanya anima (sisi feminim laki-laki) dan animus (sisi maskulin dari perempuan. 
  2. Alfred Adler, Adler tidak setuju dengan Freud mengenai pentingnya seksualitas dalam perkembangan kepribadian. Bagi Adler kekuatan pendorong emosi, usaha, dan pikiran bukanlah untuk mencari kesenangan tetapi untuk mencari keunggulan. Adler juga mengembangkan teori bahwa urutan kelahiran anak mempengaruhi kepribadian. Misalnya anak sulung merasa rendah diri ketika orang tua memberikan perhatian lebih terhadap adiknya begitupun sebaliknya anak bungsu merasa rendah diri karena merasa tidak diberikan kepercayaan seperti anak sulung. Untuk anak tengah, mereka cenderung lebih kompetitif. 
  3. Karen Horney, Horney tidak setuju dengan pandangan Freud tentang perbedaan antara pria dan wanita dan ia melawan dengan konsepnya sendiri tentang womb envy yang menyatakan bahwa pria merasa perlu untuk mengimbangi kurangnya kemampuan melahirkan anak mereka dengan berjuang untuk sukses di bidang lain (Burger, 1997). Horney berfokus pada basic anxiety yang terdapat dalam diri seorang anak. Menurutnya, kecemasan ini dapat diatasi dengan adanya kasih sayang dan perhatian dari orang tua terhadao anaknya. 
  4. Erik Erikson, adalah seorang guru seni yang belajar dengan Anna Freud mengenai psikoanalis. Dia menolak mengenai penekanan Freud pada seks, lebih memilih untuk menekankan hubungan sosial yang penting pada setiap tahap kehidupan.
Current Thoughts on Freud and the Psychodynamic Perspective
Walaupun teori psikoanalitik asli Freud tampaknya kurang relevan dalam dunia seksual yang jenuh saat ini, banyak dari konsepnya tetap berguna dan masih menjadi dasar bagi banyak teori kepribadian modern, serta perspektif psikodinamik. Ide mekanisme pertahanan telah mendapat beberapa dukungan penelitian dan tetap berguna dalam psikologi klinis sebagai cara untuk menggambarkan perilaku defensif dan pemikiran irasional orang. Konsep pikiran bawah sadar juga memiliki beberapa dukungan penelitian.

II. The Behavioral and Social Cognitive View of Personality
Learning Theories
Menurut para behavioris, kepribadian tidak jauh dari kebiasaan yang dipelajari.  Ahli teori pembelajaran kognitif sosial, yang menekankan pentingnya pengaruh perilaku orang lain dan harapan seseorang dalam belajar, berpendapat bahwa pembelajaran observasional, pemodelan, dan teknik pembelajaran kognitif lainnya dapat mengarah pada pembentukan pola kepribadian.

Bandura’s Reciprocal Determinism and Self-Efficacy
Bandura menyatakan bahwa tiga faktor saling mempengaruhi dalam menentukan pola perilaku yang membentuk kepribadian, yaitu lingkungan, perilaku itu sendiri, dan faktor pribadi atau kognitif yang dibawa orang tersebut ke dalam situasi yang disebut dengan reciprocal determinism.  Salah satu hal lebih penting yang Bandura bicarakan adalah self-efficacy, harapan seseorang tentang seberapa efektif usahanya untuk mencapai tujuan dalam keadaan tertentu (Bandura, 1998). Self Efficacy ini mempengaruhi tingkat kesuksesan seseorang dalam melakukan hal yang sama. Contoh : saat Shabrina berhasil mendapat juara dalam story telling, maka di kemudian hari dia merasa yakin jika berbicara di depan umum akan mendapatkan sambutan yang positif pula dari orang lain. 

Rotter’s Social Learning Theory: Expectancies
Julian Rotter (1966, 1978, 1981, 1990) menyusun teori berdasarkan prinsip dasar motivasi yang diturunkan dari hukum efek Thorndike dimana orang termotivasi untuk mencari penguatan dan menghindari hukuman. Dia memandang kepribadian sebagai serangkaian respons potensial yang relatif stabil terhadap berbagai situasi. Salah satu pola respons yang sangat penting dalam pandangan Rotter adalah konsep locus of control, kecenderungan orang untuk berasumsi bahwa mereka memiliki kendali atau tidak memiliki kendali atas peristiwa dan konsekuensi dalam hidup mereka.  Menurutnya, terdapat dua locus of control, yaitu :
  1. Internal in locus of control, yaitu mereka beranggapan bahwa tindakan yang mereka lakukan sendiri mempengaruhi konsekuensi yang mereka dapatkan. Biasanya orang yang memiliki internal in locus of control yang tinggi, mereka juga memiliki motivasi yang tinggi. 
  2. External in locus of control, yaitu mereka beranggapan bahwa hidup mereka dikontrol oleh orang yang lebih berkuasa, keberuntungan, atau hanya nasib. 
Seperti Bandura, Rotter juga yakin bahwa interaksi faktor bisa mempengaruhi kepribadian. Menurut Rotter, terdapat 2 hal yang membuat seseorang mengambil suatu keputusan, yaitu :
  1. Expectancy, mirip dengan konsep self-efficacy Bandura yang mengacu pada perasaan subjektif seseorang bahwa perilaku tertentu akan menyebabkan konsekuensi yang memperkuat.
  2. Reinforcement value, yaitu hal yang menarik bagi kita sebagai nilai penguat. 

Current Thoughts on the Behavioral and Social Cognitive Learning 
Behaviorisme sebagai penjelasan pembentukan kepribadian memiliki keterbatasan. Teori klasik tidak memperhitungkan proses mental ketika menjelaskan perilaku, juga tidak memberi bobot pada pengaruh sosial pada pembelajaran. Pandangan kognitif sosial tentang kepribadian, tidak seperti behaviorisme tradisional, memang mencakup proses sosial dan mental serta pengaruhnya terhadap perilaku. 

III. The Third Force: Humanism and Personality
Humanistic perspective adalah the “third force” dalam psikologi yang berfokus pada aspek-aspek kepribadian yang membuat orang menjadi manusia yang unik, seperti perasaan subjektif dan kebebasan memilih. Psikologi Humanistik yang dipimpin oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow menginginkan agar psikologi berfokus pada hal-hal yang membuat orang menjadi manusia yang unik, seperti emosi subjektif dan kebebasan untuk memilih nasibnya sendiri. 

Baik Maslow dan Rogers (1961) percaya bahwa manusia selalu berusaha untuk memenuhi kapasitas pemenuhan ini disebut self-actualizing tendency. Alat penting dalam aktualisasi diri manusia adalah self-concept. Self-concept adalah citra diri berdasarkan pandangan orang lain dan bagaimana hal pandangan tersebut menjadi tercermin dalam diri kita karena adanya pandangan daru orang penting seperti orang tua, saudara, rekan kerja, bahkan guru. 

Real and Ideal Self
Dua komponen penting dari self-concept adalah real and ideal self. Real self adalah diri yang sebenanrya yang mencakup karakteristik, sifat, dan kemampuan untuk melakukan aktualisasi diri. Sedangkan ideal self adalah persepsi apa yang harusnya dilakukan oleh seseorang. Bila terjadinya keseimbangan antara real dan ideal self maka akan terjadi harmoni kehidupan sedangkan bila terjadinya ketidakseimbangan antara real dan ideal self akan terjadi anxiety.

Conditional and Unconditional Positive Regard
Rogers mendefinisikan  positive regard adalah kehangatan, kasih sayang, cinta, dan rasa hormat yang datang dari orang lain yang berarti (orang tua, orang dewasa yang dikagumi, teman, dan guru) dalam pengalaman orang. Positive regard ini juga bisa mengatasi stress yang dihadapi seseorang. Terdapat 2 macam positive regard, yaitu :
  1. Positive regard tanpa syarat, yaitu kasih sayang atau penghargaan yang diberikan tanpa adanya persyaratan tertentu sehingga lebih memberikan kebebasan bagi individu. Contoh : orang tua Siti memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih jurusan kuliah yang sesuai dengan minatnya agar kedepannya pun dalam menjalani karir siti tidak merasa tertekan. 
  2. Positive regard bersyarat, yaitu kasih sayang atau penghargaan yang diberikan dengan arahan atau syarat tertentu dan biasanya membuat individu menjadi tidak terlalu bebas. Contoh : orang tua Bima menganjurkannya untuk melanjutkan ke sekolah kedinasan sehingga masa depan lebih terjamin. Dalam hal ini, Bima cukup merasa terbebani dengan anjuran orang tuanya sehingga ia harus bisa mewujudkan ekspektasi orang tua nya tersebut. 
Menurut Rogers, seseorang yang sedang dalam proses aktualisasi diri, aktif menggali potensi dan kemampuan serta mengalami kecocokan antara diri sejati dan diri ideal yang berasal dari dalam dirinya adalah fully functioning person.

Current Thoughts on the Humanistic  View of Personality 
Secara keseluruhan, dampak terbesar teori humanistik adalah dalam pengembangan terapi yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan diri dan membantu orang lebih memahami diri mereka sendiri dan orang lain. Misalnya, bila dilihat melalui lensa variabel psikoterapi dan terapis, tampaknya ada hubungan yang konsisten antara ide-ide Rogers tentang penghargaan positif tanpa syarat dan tingkat empati terapis yang dirasakan oleh klien, yang secara positif berkontribusi pada peningkatan evaluasi diri klien dan peningkatan hubungan klien dengan orang lain (Watson et al., 2014). 


III. Traits Theories 
Traits theory adalah teori yang berusaha untuk menggambarkan karakteristik yang membentuk kepribadian manusia dalam upaya untuk memprediksi perilaku masa depan. 

Allport and Cattell: Early Attempts to List and Describe Traits
Allport
Sifat adalah cara berpikir, perasaan, atau perilaku yang konsisten dan bertahan lama. Allport percaya (tanpa bukti ilmiah, bagaimanapun) bahwa sifat-sifat ini secara harfiah terhubung ke sistem saraf untuk memandu perilaku seseorang di banyak situasi yang berbeda dan sifat setiap orang adalah unik.

Cattell and the 16pf
Raymond Cattell (1990) mendefinisikan terdapat 2 jenis sifat, yaitu :
  1. Surface traits, yaitu aspek yang dapat dilihat oleh orang lain secara fisik. Contoh : pendiam, pemalu, ramah, dll 
  2. Source traits , yaitu sifat yang lebih mendasar yang membentuk kepribadian.  Contoh : pemalu merupakan sifat dasar dari seseorang yang introvert. 
Cattell mengidentifikasi 16 sifat sumber  dan meskipun kemudian ia menentukan bahwa mungkin ada 7 sifat sumber lain untuk membuat total 23 (Cattell & Kline, 1977) lalu ia mengembangkan kuesioner penilaiannya yang disebut sebagai Personality Factor (16PF) Questionnaire (Cattell, 1995). 

Modern Trait Theories: The Big Five
Para peneliti selanjutnya berusaha untuk mengurangi jumlah dimensi sifat menjadi jumlah yang lebih dapat diandalkan, dengan beberapa kelompok peneliti sampai pada kurang lebih lima dimensi sifat yang sama (Botwin & Buss, 1989; Jang et al., 1998; McCrae & Costa, 1996). Robert McCrae and Paul Costa mengusulkan bahwa lima sifat ini tidak saling mempengaruhi. Kelima dimensi sifat ini dapat diingat dengan menggunakan akronim OCEAN, di mana setiap huruf adalah huruf pertama dari salah satu dari lima dimensi kepribadian, yaitu :
  1. Openness, yaitu keadaan dimana seseorang mudah dalam menerima hal baru. Biasanya orang yang bertahan pada status quo tertentu memiliki tingkat openness yang rendah. 
  2. Conscientiousness, yaitu berkaitan dengan organisasi dan motivasi seseorang. Dalam hal ini, seseorang bisa dinilai dari bagaimana cara dia memanajemen suatu kegiatan atau benda agar tetap dalam kondisi baik. 
  3. Extraversion, yaitu istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Carl Jung yang membagi kepribadian menjadi introvert dan ekstrovert. Introvert adanya orang yang memiliki kepribadian lebih suka menyendiri sedangkan ekstrovert adalah orang yang lebih suka dengan keramaian. 
  4. Agreeableness, yaitu lebih mengacu pada gaya bergaul seseorang atau diterima nya orang tersebut dalam suatu lingkungan karena memiliki sifat yang ramah, mudah bergaul, dan menyenangkan. 
  5. Neuroticism, yaitu mengacu pada ketidakstabilan emosional. Biasanya orang yang mudah marah, terlalu khawatir, cemas akan memiliki tingkat neuroticism yang tinggi. Sebaliknya mereka yang lebih tenang akan mendapatkan tingkat neuroticism yang rendah. 
Current Thoughts on the Trait Perspective
Beberapa ahli teori telah memperingatkan bahwa ciri-ciri kepribadian tidak akan selalu diekspresikan dengan cara yang sama dalam situasi yang berbeda. Walter Mischel, seorang ahli teori kognitif sosial, telah menekankan bahwa ada trait–situation interaction di mana keadaan tertentu dari situasi tertentu diasumsikan mempengaruhi cara di mana suatu sifat diekspresikan (Mischel & Shoda, 1995).
Contoh : Seseorang yang ekstrovert biasanya ceria, selalu banyak bicara kepada orang, serta menghibur. Namun, hal tersebut tidak berlaku jika orang ekstrovert tersebut berkunjung ke pemakaman dimana situasi disana adalah berduka. 


Personality: Genetics and Culture 
Behavioral genetics adalah studi untuk mempelajari seberapa banyak kepribadian seseorang disebabkan oleh sifat-sifat yang diwariskan.

Twin Studies
Terdapat 2 macam kembar yaitu  kembar monozigot (identik) dan dizigotik (fraternal). Hasil studi kembar Minnesota telah mengungkapkan bahwa kembar identik lebih mirip daripada kembar fraternal atau orang yang tidak terkait dalam kecerdasan, kemampuan kepemimpinan, kecenderungan untuk mengikuti aturan, dan kecenderungan untuk menjunjung tinggi harapan budaya tradisional. 

Adoption Studies
Peneliti dapat mengungkap beberapa pengaruh lingkungan dan genetik yang terdapat pada kepribadian.

Classic Studies in Psychology Geert Hofstede’s Four Dimensions of Cultural Personality
Terdapat 4 dimensi dasar kepribadian dengan budaya yang berbeda, yaitu :
  1.  Individualism/collectivism, budaya yang individualistis biasanya memiliki penduduk yang lebih mengutamakan kepentingan sendiri dan hanya bergaul dengan orang terdekat. Sedangkan jika budaya kolektivis kelompok itu sangat diperlukan dalam mendukung kehidupan. 
  2.  Power distance, yaitu kekuasaan dipegang oleh orang yang memiliki kedudukan tertentu. 
  3.  Masculinity/femininity, yaitu bagaimana budaya memberikan gambaran mengenai peran pria dan wanita. 
  4.  Uncertainty avoidance

IV. Assessment of Personality 
  1. Behavioral assessments
  2. Interview
  3. Personality inventories
  4. Projective tests



Source : Ciccareli, S & White, J. 2018. Psychology Fifth Edition Global Edition. England : Pearson Education Limited

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSIUM II : EMOSI DAN MOTIVASI

History of Psychology

PSIUM II : PERSPEKTIF BIOLOGIS DALAM PSIKOLOGI